Mulai Masuk Musim Hujan, Ini Perkiraan Curah Hujan Awal November 2026

CNN Indonesia
Selasa, 27 Okt 2026 11:50 WIB
Seorang warga membawa payung saat melintas di Kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (16/10/2020). Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim hujan di Indonesia telah berlangsung dari bulan Oktober dan diprediksi puncak musim hujan te
BMKG memprediksi curah hujan menengah di sebagian besar Indonesia awal November 2026. (Foto: ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori menengah pada awal November 2026. Namun, sejumlah daerah masih berpotensi mengalami kondisi kering akibat pengaruh fenomena El Nino yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Berdasarkan prediksi BMKG untuk dasarian pertama November 2026, sebanyak 77,72 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan kategori menengah atau 50-150 milimeter per dasarian.

Sementara itu, 20,72 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah atau 0-50 milimeter per dasarian, sedangkan 1,56 persen lainnya masuk kategori tinggi dengan curah hujan 150-300 milimeter per dasarian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Curah hujan kategori menengah diprediksi mendominasi sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Papua, serta sebagian Jawa dan Sulawesi," tulis BMKG dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan periode 27 Oktober hingga 2 November 2026.

Sementara itu, curah hujan kategori rendah diperkirakan masih terjadi di sebagian Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian Sulawesi dan Maluku.

Meski curah hujan secara umum diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah, BMKG mengingatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi di sejumlah wilayah.

Hujan tersebut juga berpeluang disertai kilat atau petir dan angin kencang akibat dinamika atmosfer regional dan lokal.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan rata-rata musim hujan di wilayah Indonesia pada tahun ini diprediksi mundur sekitar 20 hingga 30 hari. Di beberapa wilayah hujan diprakirakan mulai turun pada November, sementara yang lain mulai di bulan Desember.

"Musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino," kata Faisaldi Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/10).

Pengaruh El Nino dan gelombang atmosfer

BMKG menjelaskan fenomena El Nino yang sangat kuat dan IOD positif menjadi pemicu kondisi kering di Indonesia.

Pada periode 22-25 Oktober, tutupan awan dan curah hujan masih terbatas di sejumlah wilayah. Suhu udara maksimum mencapai 38 derajat Celsius atau lebih di beberapa wilayah seperti Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Namun, kondisi atmosfer tersebut tidak seragam di seluruh Indonesia.

Sejumlah daerah justru mencatat hujan lebat hingga ekstrem, dengan curah hujan tertinggi mencapai 187 milimeter per hari di Aceh dan 103 milimeter per hari di Sumatera Utara.

Hujan juga tercatat mencapai 86,2 milimeter per hari di Jawa Barat, 80 milimeter per hari di Sumatera Barat, 78 milimeter per hari di Kepulauan Riau, 65 milimeter per hari di Papua, serta 61 milimeter per hari di Riau.

BMKG menyebut aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan sejumlah gelombang atmosfer turut memengaruhi pembentukan awan hujan.

Dalam sepekan ke depan, MJO diperkirakan memengaruhi sebagian besar wilayah Indonesia bagian barat dan selatan.

Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) diprediksi aktif di sebagian Indonesia bagian barat, sedangkan Gelombang Kelvin diperkirakan memengaruhi sebagian wilayah utara Indonesia.

Kombinasi fenomena tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah yang mengalami pemusatan massa udara dan memiliki kondisi atmosfer labil.

Selain itu, BMKG memprediksi terbentuknya sirkulasi siklonik di Laut Andaman dan Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat Daya.

Kedua sistem tersebut berpotensi memengaruhi pola angin regional serta membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Dengan kondisi tersebut, hujan signifikan dalam skala harian masih mungkin terjadi meskipun akumulasi curah hujan selama 10 hari diperkirakan relatif rendah hingga menengah.

Di tengah peluang peningkatan hujan, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat kondisi kering yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.

[Gambas:Video CNN]

Selama 10 hari terakhir, sebanyak 4.098 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terpantau di Kalimantan.

Selain itu, terdapat 879 titik panas di Papua Selatan dan 784 titik di Sumatera Selatan.

Asap juga masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

BMKG menegaskan keberadaan titik panas tidak selalu menunjukkan terjadinya kebakaran. Namun, peningkatan jumlahnya perlu diwaspadai untuk mendukung upaya mitigasi dan penanganan.

(lom)
LIHAT SELENGKAPNYA