NASA Soroti Karhutla Papua, Lonjakan Emisi Cetak Rekor

CNN Indonesia
Minggu, 25 Okt 2026 07:25 WIB
Satelit NOAA-20 menggunakan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) berhasil merekam kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober 2026
Satelit NOAA-20 menggunakan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) berhasil merekam kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober 2026. (Foto: NASA Earth Observatory/Michala Garrison)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Papua yang menyebabkan lonjakan emisi karbon sepanjang September hingga Oktober 2026.

Emisi kebakaran di Papua bahkan telah melampaui catatan pada periode yang sama dalam tahun-tahun sebelumnya.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis (22/10), NASA menyebut kekeringan akibat fenomena El Nino kuat membuat kebakaran meluas di pulau terbesar kedua di dunia tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asap tebal menyelimuti sebagian besar wilayah Papua Nugini selama berminggu-minggu. Kondisi ini menyebabkan polusi udara meningkat, mengganggu penerbangan, hingga memaksa sejumlah sekolah menghentikan kegiatan belajar.

Satelit NOAA-20 menggunakan instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) berhasil merekam kepulan asap tebal dari bagian selatan Pulau Papua pada 11 Oktober.

Peneliti NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, Robert Field, menjelaskan sebagian asap kebakaran dapat terbawa ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi atau tersapu hujan ketika memasuki sistem badai.

Namun, sebagian besar asap tetap berada di dekat permukaan Bumi sehingga memperburuk kualitas udara.

"Ini situasi yang mengerikan," kata Field dalam keterangannya pada Kamis (22/10), dikutip dari laman NASA.

Berdasarkan data Global Fire Emissions Database (GFED), kebakaran di Papua Nugini telah melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga 17 Oktober 2026.

Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam catatan emisi kebakaran Papua Nugini untuk periode yang sama.

Ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, mengatakan emisi tahun ini bahkan telah jauh melampaui total emisi sepanjang 2015.

"Emisi sudah jauh lebih tinggi dibandingkan total sepanjang 2015, dan sangat mungkin tahun ini menjadi yang tertinggi dalam catatan Papua Nugini, bahkan melampaui 1997," ujar Van der Werf.

Sementara itu, di wilayah Papua bagian Indonesia, emisi karbon akibat kebakaran telah melampaui 35 megaton.

Angka tersebut merupakan yang tertinggi ketiga setelah 2015 dan 1997, dua tahun ketika fenomena El Nino turut memicu kebakaran hebat.

GFED menggunakan pemodelan berbasis data satelit, karakteristik vegetasi, dan informasi lainnya untuk memperkirakan luas kebakaran vegetasi serta emisi karbon selama hampir tiga dekade.

NASA menjelaskan perubahan pola curah hujan akibat El Nino menyebabkan sejumlah ekosistem di Papua menjadi sangat kering dan rentan terbakar.

Di bagian paling selatan Papua Nugini, khususnya kawasan sabana dan padang rumput Trans-Fly, kekeringan berlangsung lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan.

Data cuaca juga menunjukkan sejumlah wilayah hanya menerima sekitar 5 hingga 10 persen curah hujan normal sejak Agustus.

Kekeringan tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga menyebabkan gagal panen, kekurangan air, dan gangguan kegiatan sekolah.

Menurut para peneliti, sebagian besar kebakaran di Papua dipicu aktivitas manusia, seperti pembakaran lahan pertanian, pemeliharaan padang penggembalaan, pembukaan hutan, dan perburuan.

Dalam kondisi normal, pembakaran tersebut dapat dilakukan secara terkendali. Namun, ketika vegetasi mengering, api lebih mudah menyebar menjadi kebakaran yang tidak terkendali.

Peneliti University of California, Irvine, Yang Chen, mengatakan aktivitas kebakaran di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah wilayah Indonesia bagian barat.

"Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya," ujar Chen.

Papua dan deforestasi

Selain faktor iklim, NASA turut menyoroti perubahan penggunaan lahan di Papua dalam dua dekade terakhir.

Pembukaan hutan di Papua Indonesia dilakukan untuk berbagai kepentingan, termasuk perkebunan kelapa sawit, tanaman bahan baku bubur kertas, pertanian skala kecil, perluasan kawasan perkotaan, dan pertambangan.

Chen menyebut Papua kini menjadi salah satu wilayah baru yang menghadapi tekanan deforestasi di Indonesia.

[Gambas:Video CNN]

Data Global Forest Watch menunjukkan Papua kehilangan sekitar 27 ribu hektare hutan primer sepanjang 2025.

Luas kehilangan hutan tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi sejak 2017.

Para peneliti memperkirakan kebakaran di Papua masih dapat berlanjut hingga hujan lebat pada musim hujan tiba di bagian selatan pulau tersebut, yang biasanya berlangsung pada awal November.

(lom)