Banyak Situs Tumbang, Seberapa Bahaya Celah PHP yang Ditemukan AI?

CNN Indonesia
Jumat, 23 Okt 2026 13:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Jutaan situs web di seluruh dunia berisiko mengalami lebih banyak upaya serangan siber akibat temuan dua celah keamanan pada sistem Hypertext Preprocessor (PHP) yang ditemukan AI. Banyak situs web memutuskan untuk menutup layanannya sementara untuk mencegah pembobolan.

PHP adalah bahasa pemrograman yang menjadi dasar bagi sebagian besar situs web di dunia selama lebih dari 30 tahun. Sejumlah sistem manajemen konten (CMS) seperti WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento juga menggunakan teknologi ini.

Para peneliti dan pakar keamanan siber secara berkala menguji sistem untuk mencari kerentanan dan celah keamanan, lalu memperbaikinya ketika ditemukan. Sejak awal 2026, AI digunakan dalam proses ini untuk mempercepat identifikasi potensi kerentanan sistem.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka mengatakan telah bekerja sama dengan model terdepan Anthropic untuk memindai kode PHP, dan telah memasukkan proyek PHP ke dalam program Patch the Planet dari OpenAI, yang menemukan masalah tersebut bersamaan dengan Ryan A dari Calif pada pertengahan Agustus.

Temuan tersebut berupa dua celah keamanan yang sangat berisiko di PHP dan selama bertahun-tahun ini luput dari perhatian. Awalnya, para pakar dan pihak pengembang merahasiakan pengungkapan kerentanan tersebut.

Namun, rumor telah tersebar di forum media sosial, sehingga mereka segera mengumumkannya dan menyarankan penutupan akses layanan web sementara sampai pembaruan sistem keamanan sepenuhnya dilakukan.

Melansir The Guardian, sekitar 70 persen situs web di internet menggunakan PHP dan itu berarti jutaan situs terancam akibat kerentanan tersebut. Layanan pemerintah, toko online, bank, bahkan situs media seperti Wikipedia dan Facebook termasuk di antaranya.

Sejumlah situs web lembaga dan organisasi pemerintah Amerika, Inggris, Prancis, Belanda, Kanada, Jepang, Jerman, dan hampir seluruh dunia juga telah dinonaktifkan sementara untuk mencegah pembobolan bagi peretas yang memanfaatkan celah keamanan tersebut.

Laporan kerentanan ini diumumkan PHP Foundation pada hari Rabu (21/10) melalui rilis keamanan di laman resminya. Mereka juga telah menyediakan versi terbaru PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan PHP 8.2.35 untuk menangani celah keamanan tersebut.

Dua kerentanan yang ditemukan di antaranya CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 yang bekerja pada sistem manajemen memori dan error handling, sehingga berisiko merusak memori di situs web, lalu membuka jalur langsung ke sistem file atau database server.

Kedua kerentanan yang disebut sebagai "eksploitasi PHP2Shell" ini berdampak sangat luas dan serius karena bekerja di bagian terpenting dalam PHP itu sendiri, kerusakan yang ditimbulkannya juga sangat sulit untuk diperbaiki.

Dengan memanfaatkan celah ini, peretas dapat mengambil alih kendali server dengan melakukan penyerangan jarak jauh atau remote code execution (RCE) tanpa autentikasi, lalu mencuri data-data sensitif.

Para pakar dan lembaga cybersecurity di seluruh dunia termasuk NSA, NCSC, dan FBI telah memberikan peringatan dan mendesak para pengelola situs web untuk melakukan pembaruan sistem (patch) atau segera melakukan penonaktifan layanan web sementara jika tidak memungkinkan.

AI meningkatkan risiko keamanan

Kemampuan agen AI mengidentifikasi masalah semakin meningkat, mereka dapat menemukan kerentanan yang bahkan tidak disadari manusia. AI juga dapat membantu memperbaiki masalah tersebut atau justru mengeksploitasinya.

Peningkatan kemampuan dan perkembangan teknologi tersebut memicu banyak pembaruan pada sistem keamanan perangkat lunak. Hal ini karena AI dapat dengan mudah digunakan oleh siapa saja dan banyak peretas berupaya memanfaatkannya.

"Pelaku ancaman bergerak cepat, terutama dengan bantuan AI, dan ini (PHP2Shell) kemungkinan akan menjadi target prioritas mereka dalam beberapa jam dan hari mendatang," kata Don Smith pakar keamanan siber di Sophos Counter Threat Unit.

Kondisi ini juga cukup mengkhawatirkan karena PHP Foundation hanya terdiri dari 13 developer atau engineers inti yang bekerja secara full-time maupun part-time, berbanding jauh dengan AI yang mampu bekerja dengan sangat cepat dan terus berkembang berkat miliaran dolar investasi global.

Dalam penanganannya, PHP Foundation telah bekerja sama dengan banyak pihak, perusahaan cybersecurity Calif dan Wiz yang menemukan kasus ini termasuk di antaranya. Mereka juga memanfaatkan teknologi AI dari Alpha-Omega, OpenAI, dan Anthropic sebagai upaya peningkatan sistem keamanan.

(fta/dmi)