Fenomena Haze Kembali Selimuti Labuan Bajo, Ini Kata BMKG

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 10:40 WIB
Ilustrasi. Fenomena haze menyelimuti Labuan Bajo, NTT, diduga akibat asap kebakaran hutan. (Foto: AFP/FELINE LIM)
Ilustrasi. Fenomena haze menyelimuti Labuan Bajo, NTT, diduga akibat asap kebakaran hutan. (Foto: AFP/FELINE LIM)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena haze atau udara kabur kembali menyelimuti Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin (19/10). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat kurangi aktivitas berat di luar ruangan untuk mencegah gangguan pernapasan.

Haze adalah fenomena atmosfer yang disebabkan oleh partikel-partikel kecil yang mengaburkan pandangan dan mengurangi kejernihan langit. Fenomena ini kerap terjadi ketika ada akumulasi debu, asap, atau uap air di atmosfer yang menghalangi cahaya.

Fenomena yang tengah terjadi di Labuan Bajo ini lantas diduga akibat asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Tidak hanya Labuan Bajo, fenomena haze juga muncul di banyak wilayah lain di NTT.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Udara kabur di Labuan Bajo yang terjadi awal pekan ini membuat warga mengalami mata perih.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena haze di Labuan Bajo membuat jarak pandang terbatas sekitar empat kilometer. Mereka mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan.

"Kami imbau bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta penderita saluran pernafasan untuk membatasi aktivitas berat di luar ruangan apabila udara berasap atau berdebu," kata Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Maria Patricia Christin Seran, Senin (19/10), dikutip dari Detikcom.

"Apabila kemudian muncul gangguan pernapasan, masyarakat disarankan dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila diperlukan," imbuhnya.

Maria mengatakan fenomena haze ini mungkin berkaitan dengan sebaran kabut asap karhutla dari luar wilayah NTT. Namun, perlu analisis lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pastinya karena partikel yang membentuk udara kabur bukan hanya bersumber dari asap.

"Berdasarkan pemantauan kondisi meteorologi, pola angin di wilayah NTT masih didominasi angin dari arah timur. Pola angin tersebut secara meteorologis memungkinkan terjadinya transportasi partikulat dari wilayah di sebelah timur NTT. Apabila terdapat sumber emisi berupa kebakaran hutan dan lahan di wilayah timur, partikulat yang dihasilkan bisa berpotensi terbawa oleh aliran udara ke wilayah NTT," jelas Maria.

Selain karhutla, Maria menyebut terdapat kemungkinan haze atau aerosol yang menyebabkan udara kabur berasal dari percikan air laut yang menghasilkan partikel garam dan terangkat ke atmosfer sebab wilayah NTT dikelilingi laut.

[Gambas:Video CNN]

Menurutnya, indikasi partikulat halus dan aerosol berdasarkan pemodelan BMKG tidak serta merta menunjukkan bahwa kondisi tersebut hanya disebabkan oleh asap kebakaran.

"Penentuan sumber partikulat memerlukan analisis lebih lanjut, sedangkan kondisi kualitas udara aktual perlu dikonfirmasi melalui pengukuran langsung," ungkap Maria.

(fta/lom)