Serangan siber yang menargetkan ratusan supermarket di Prancis menyebabkan suhu kulkas naik hingga 50 derajat Celsius dalam semalam. Peretas diketahui menyasar salah satu kerentanan pada salah satu perangkat lunak yang digunakan.
Kantor Kejaksaan Prancis menyebut serangan berskala besar ini menyasar kulkas yang terhubung dengan jaringan di sejumlah peritel makanan besar di Prancis. Serangan ini menyebabkan kerugian akibat makanan yang rusak hingga kebakaran imbas lonjakan suhu hingga 50 derajat Celsius sepanjang malam.
"Para pelaku menyerang kulkas yang terhubung ke jaringan di sejumlah peritel makanan besar di seluruh Prancis. Kerusakan yang dilaporkan mencakup kerugian akibat makanan yang rusak dan kebakaran," ungkap Kantor Kejaksaan Prancis, dikutip dari The Guardian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Pihak berwenang masih menyelidiki siapa yang melancarkan serangan tersebut dan bagaimana serangan itu dilakukan. Saluran TV Prancis BFM melaporkan bahwa para penyerang tampaknya telah mengaktifkan opsi pencairan paksa pada sistem pendingin secara jarak jauh.
Menurut badan keamanan siber pemerintah Prancis yang dilansir Aljazeera, sistem yang menjadi sasaran serangan tersebut diproduksi oleh produsen asal Denmark, Danfoss. Model sistem pendingin yang diserang antara lain AK-SM800 dan AK-SC355.
Danfoss menyebut pihaknya mengetahui adanya insiden di Prancis yang berdampak pada sejumlah kecil sistem pengelolaan kulkas. Menurutnya, perangkat yang terdampak masih menjalankan firmware versi lama.
Perusahaan turut menambahkan bahwa pihaknya telah lama menyarankan pelanggan untuk memperbarui sistem ke firmware terbaru serta memigrasikan sistem lama ke solusi generasi terkini.
Ratusan gerai jadi korban
Setidaknya 300 gerai Intermarché dan merek Netto terdampak serangan ini. Coopérative U menyatakan lebih dari 100 supermarketnya menjadi sasaran, sementara Carrefour menyebutkan 80 supermarketnya terdampak, dan Monoprix melaporkan bahwa sekitar 5 persen dari sekitar 490 gerainya terkena dampaknya.
"Menargetkan peralatan yang sangat penting untuk menjaga kesegaran produk dan menjamin pasokan makanan bagi masyarakat Prancis merupakan tindakan yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Dominique Schelcher, CEO Coopérative U di X.
Lebih lanjut, BFM menyebut jaringan supermarket terbesar di Prancis bernama "E.Leclerc" turut terdampak. Para peretas dilaporkan berhasil mengaktifkan proses pencairan paksa pada kulkas di banyak toko dari jarak jauh, namun E.Leclerc tidak menanggapi permintaan komentar.
Serangan ini tampaknya tak hanya terjadi di Prancis. Pasalnya, salah satu jaringan supermarket Belanda, Albert Heijn, milik perusahaan Ahold Delhaize menyebut pihaknya juga mengalami masalah keamanan dan menonaktifkan sementara beberapa sistem untuk melindunginya.
Sejumlah toko jaringan Albert Heijn, yang juga berada di Belgia, tetap beroperasi di kedua negara. Namun, aplikasi daring dan sistem pengiriman mereka tidak dapat digunakan, dan label harga elektronik di toko-toko tersebut kerap menampilkan informasi keliru.
Menurut laporan media Belgia, Supermarket Delhaize yang beroperasi di Belgia dan Luksemburg turut terdampak masalah keamanan tersebut.
Meski demikian, belum diketahui apakah kasus yang terjadi di jaringan supermarket Prancis berkaitan dengan insiden yang dilaporkan oleh Ahold Delhaize.
Dalam menangani kasus ini, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menginstruksikan Badan Keamanan Siber Nasional Prancis (ANSSI) untuk menyelidiki insisen ini.
Selain itu, Prancis turut berkoordinasi dengan sejumlah negara Eropa lainnya yang mungkin turut terdampak. Pemerintah juga menyelidiki apakah ada perusahaan Prancis lainnya yang berisiko mengalami serangan serupa.
(nad/lom)
