ViriyaENB Bicara Solusi Polusi Jakarta: Tak Bisa Andalkan Satu Pemda

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 08:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) mengungkap solusi polusi udara di Jakarta perlu dilakukan secara terpadu dan tidak bisa hanya mengandalkan satu pemerintah daerah atau sektor saja.

Suzanty Sitorus selaku Executive Director ViriyaENB menyebut, penanganan polusi udara Jakarta perlu dilakukan lintas wilayah, karena sumber emisi juga berasal dari berbagai wilayah sekitarnya. Ia mendorong pemerintah untuk menggunakan pendekatan air shed atau wilayah tangkapan udara sebagai dasar intervensi.

Dengan menerapkan pendekatan ini, kata Suzanty, penanganan polusi tidak lagi dibatasi oleh batas administratif maupun sektor tertentu, melainkan dilakukan berdasarkan wilayah yang saling memengaruhi kualitas udara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita tidak dapat mengatasi polusi udara di Jakarta hanya oleh pemerintah Jakarta sendiri atau oleh sektor tunggal saja. Unit intervensi untuk mengatasi kualitas udara bukanlah batas administratif atau batas sektor, melainkan (dengan pendekatan) air shed. Apa wilayah tangkapan udara untuk Jakarta? Itu yang perlu kita ubah," kata Suzanty dalam panel diskusi bertajuk "Building Competitive and Livable Cities" pada acara Indonesia International Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Menurutnya, pemerintah di Jakarta dan wilayah sekitarnya perlu memperkuat perencanaan serta koordinasi untuk mengatasi masalah polusi udara bersama. Pasalnya, sejumlah sumber polusi seperti pembakaran sampah, ditemukan di berbagai wilayah Jabodetabek.

"Pergeseran yang perlu kita lakukan secara kolektif adalah merencanakan dan berkoordinasi pada skala di mana Jakarta berfungsi. Tetapi pada saat yang sama, kami juga mendorong daerah tetangga untuk mengambil tindakan," ujar Suzanty.

"Dan juga, bisnis dan komunitas untuk mengambil tindakan bersama-sama mengatasi tantangan polusi udara," tambahnya.

Sebelumnya, studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap sumber polusi PM2.5 di Jakarta merupakan sumbangan dari aktivitas kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang berkontribusi sebesar 38,51 persen.

ITB mengungkap dua studi yang bertajuk "Source Apportionment PM2.5 di Jakarta" dan "Inventarisasi Emisi Wilayah Jakarta Raya (Jabodetabek)" merupakan hasil pengamatan yang dilakukan oleh tim peneliti Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) ITB.

Penelitian yang didukung oleh ViriyaENB ini turut mengungkap polusi PM2.5 di Jakarta menembus 34 mikrogram. Angka ini dinilai 6,8 kali lipat dari pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Studi ini menemukan tingginya paparan polusi PM2.5 yang menyelimuti Jakarta sangat dipengaruhi oleh emisi dari berbagai kegiatan manusia. Transportasi menjadi sektor penyumbang polusi udara tertinggi di Jakarta dengan porsi kontribusi mencapai 59 persen.

Particulate matter (PM) adalah salah satu polutan yang masih menjadi persoalan utama di DKI Jakarta. PM atau partikulat merupakan campuran partikel padat dan droplet cair yang tersuspensi di udara.

Studi menyebut sejumlah kontributor penyumbang PM2.5 terbesar secara berurutan adalah kendaraan diesel sebesar 33,1 persen, kendaraan bensin 26,2 persen dan polutan jenis secondary sulfate sebesar 20,4 persen, pembakaran batubara menyumbang sekitar 5,5 persen dan pembakaran sampah sebesar 5 persen di Jakarta.

Sejalan dengan solusi dari Suzanty, Guru Besar ITB Puji Lestari merekomendasikan sejumlah solusi kepada pemerintah seperti menerapkan standar bahan bakar bersih Euro 4 secara menyeluruh, memperluas elektrifikasi dan mewajibkan penggunaan Diesel Particulate Filter (DPF) pada armada kendaraan seperti truk dan bus.

Di saat yang sama, kata Puji, pengawasan sektor industri dan kelistrikan harus diperketat untuk memastikan penggunaan teknologi pengendali udara yang memadai, disertai dengan tindakan tegas untuk mengeleminasi kebiasaan pembakaran sampah terbuka di pemukiman.

"Pada akhirnya, seluruh upaya ini membutuhkan komitmen manajemen kualitas udara yang terintegrasi, di mana Jakarta dan wilayah penyangganya harus berkolaborasi erat dalam satu rencana aksi bersama demi mewujudkan kembali langit bersih di kawasan tersebut," jelas Puji dalam panel diskusi bertajuk Clean Air for Greater Jakarta: From Evidence to Investment and Action di Indonesia International Sustainability Forum 2026.

(nad/dmi)