Tim arkeolog dan teknik sipil dari Jerman meneliti kembali reruntuhan bangunan istana kuno berusia 2.800 tahun di Ethiopia yang pada masa kejayaannya diyakini sebagai struktur pencakar langit di pusat kota besar Yeha.
Istana bernama Grat Be'al Gibri atau Grat Be'al Geubri diperkirakan dibangun sekitar 800 tahun sebelum masehi di wilayah Tigray, Ethiopia utara. Pembangunannya diperkirakan dilakukan pada waktu yang sama dengan Homer merenungkan perjalanan Odysseus dan bangsa Fenisia mulai mengenal alfabet.
Melansir IFL Science pada Rabu (7/10), bangunan tersebut saat ini sebagian besar hanya berupa reruntuhan anak tangga berbatu dan beberapa pilar, tapi peneliti meyakini dulunya Grat Be'al Gibri adalah struktur menjulang tinggi bertingkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian arkeologis mengungkap bahwa bangunan tersebut memiliki luas kurang lebih 60 kali 60 meter, dan merupakan istana terbesar yang diketahui di Afrika Timur pada waktu itu.
Pilar-pilar di pintu masuk diperkirakan setinggi 10 meter, yang jika dihitung bersama sisa-sisa tangga, setidaknya bangunan itu memiliki tiga lantai bertingkat. Namun, berapa tinggi sebenarnya sulit dipastikan karena sebagian besar struktur telah hancur akibat kebakaran.
Sumber-sumber kuno dari Arab mengklaim bahwa Afrika Timur dulunya memiliki bangunan hingga 20 lantai bertingkat, sementara seni pahat Arab Selatan menggambarkan kompleks mirip istana dengan setidaknya sembilan lantai.
Tata letak situs tersebut menunjukkan bahwa perancangnya menggabungkan batu dan kayu dalam pola tertentu dengan meletakkan balok kayu secara mendatar di dalam susunan batu kasar, seperti kerangka penguat.
Teknik ini mirip seperti "timber-laced masonry" atau konstruksi batu bata berbingkai kayu yang juga ditemukan di beberapa bagian Arab selatan dan Afrika timur pada periode yang sama.
Tim peneliti mengumpulkan pengukuran bagian-bagian dari reruntuhan Grat Be'al Gibri dan memasukkan data tersebut ke dalam model rekonstruksi virtual 3D untuk memeriksa kapasitas daya dukungnya untuk mengetahui jumlah lantai maksimum yang dapat dicapai sebelum roboh.
Karena para peneliti tidak dapat memastikan jenis kayu dan material lain apa yang digunakan, mereka menjalankan beberapa simulasi.
Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Heritage menunjukkan satu skenario di mana struktur tersebut dapat mencapai ketinggian hingga 19 lantai. Dalam simulasi lain yang paling tidak menguntungkan sekalipun, struktur tersebut masih mampu mencapai 16 lantai sebelum runtuh.
Namun, angka tersebut hanyalah perkiraan potensi maksimal kekuatan struktur dan material mereka. Sementara itu, belum ada cara untuk mengetahui apakah para arsitek dan insinyur Yeha benar-benar memanfaatkan potensi penuh tersebut.
Bagaimanapun, perkiraan tersebut bukan hal yang mustahil atau mengejutkan mengingat sejarah Ethiopia yang kaya. Negara ini merupakan negara merdeka tertua di Afrika dan dianggap sebagai salah satu peradaban tertua di dunia yang terus berlanjut, dengan keunikan dan kekhasan budayanya.
Penelitian terbaru tentang gedung pencakar langit berusia 2.800 tahun ini semakin menguatkan posisi Grat Be'al Gibri yang saat ini berada di daftar sementara UNESCO sebagai situs yang berpotensi dinominasikan untuk status Warisan Dunia berikutnya.

