Qualcomm Blak-blakan Soal Krisis Memori, Ternyata Ini Alasannya

CNN Indonesia
Kamis, 01 Okt 2026 20:18 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --

Qualcomm buka suara terkait fenomena kelangkaan chip memori yang terjadi secara global. Perusahaan membeberkan alasan kelangkaan ini terjadi.

Don McGuire selaku Executive VP and CMO Qualcomm Incorporated menyebut persoalan ini terjadi bukan disebabkan oleh chipset, melainkan pada ketersediaan memori. Fenomena ini disebabkan oleh sebagian besar pasokan memori yang digunakan untuk kebutuhan pusat data.

Menurut Don, kondisi ini membuat bisnis elektronik konsumen menghadapi tantangan dalam mendapatkan pasokan memori.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya, (fenomena kelangkaan memori) ini bukan soal chipset. Jadi, memori saat ini menjadi komponen yang sangat terbatas dan langka karena sebagian besar memori jelas digunakan untuk kebutuhan data center," kata Don dalam acara Snapdragon Partners & Media Event Indonesia 2026, Kamis (1/10).

Don menyatakan bahwa pihaknya tidak memproduksi memori, komponen memori berada berdampingan dengan prosesor Snapdragon. Namun, harga memori terus meningkat seiring dengan semakin terbatasnya pasokan.

"Oleh karena itu, bisnis elektronik konsumen menghadapi tantangan dalam mendapatkan memori. Kami tidak memproduksi memori, kan? Memori berada berdampingan dengan prosesor Snapdragon," tambahnya.

Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan persoalan ekonomi dan mendorong kenaikan harga smartphone.

Meski demikian, Don menegaskan bahwa Qualcomm tidak mengalami masalah kelangkaan chip, sehingga dapat memasok sesuai dengan kebutuhan para pelanggan. Namun, persoalan yang masih dihadapi adalah kemampuan pelanggan untuk mendapatkan pasokan memori dari produsen lain.

"Kami tidak memiliki masalah kelangkaan chip. Jadi, kami bisa memasok pelanggan kami dengan chip Snapdragon sebanyak yang mereka butuhkan. Namun, pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka bisa mendapatkan pasokan memori dari pihak lain, bukan dari kami?" kata Don.

Dalam mengatasi masalah ini, Qualcomm tengah berupaya melakukan inovasi pada teknologi memori agar persolan tersebut tidak menjadi masalah jangka panjang. Don menyebut salah satunya dengan menghadirkan teknologi High-Performance Computing (HPC) di smartphone.

Dengan kehadiran teknologi HPC di ponsel, kata Don, diharapkan dapat mengatasi masalah efisiensi memori. Ia memperkirakan teknologi ini akan mulai disematkan di sejumlah perangkat pada awal tahun depan.

"Kami mencoba berinovasi dengan memori agar ini tidak menjadi masalah jangka panjang, melainkan hanya masalah jangka pendek bagi pelanggan kami. Jadi, kami bisa membantu menyeimbangkan persoalan ini," ujar Don.

Don berharap kelangkaan memori ini semakin berkurang pada akhir 2027 atau awal 2028. Ia juga menegaskan tidak dapat memprediksi apakah tren kenaikan harga smartphone akan terus terjadi akibat fenomena ini.

Ia menambahkan bahwa permintaan terhadap perangkat masih tinggi, terutama seiring dengan peralihan menuju era agentic AI. Oleh karena itu, perusahaan terus bekerja sama dengan para pelanggan untuk menghadirkan sebanyak mungkin perangkat ke tangan konsumen.

"Saya tidak bisa memprediksi apakah harga akan terus meningkat. Kami berharap tidak, tetapi saya tidak bisa memprediksinya. Yang bisa saya katakan adalah kami terus melihat demand (perangkat) yang tinggi karena adanya peralihan menuju agentic AI," jelas Don.

Menurutnya, perusahaan juga berupaya membantu mengatasi persoalan memori dengan meningkatkan efisiensi dan menghadirkan teknologi HPC ke perangkat smartphone. Don melihat dampak dari upaya ini selanjutnya akan terlihat seiring perkembangan teknologi perangkat dan kondisi pasar.

"Kami juga bekerja sangat erat dengan para pelanggan untuk menghadirkan sebanyak mungkin perangkat ke tangan konsumen. Dan, ketika kami bisa membantu mengatasi masalah memori dengan membuat pengguan memori menjadi lebih efisien serta menghadirkan HPC ke perangkat smartphone, hal itu akan membantu," tutup Don.

(nad/dmi)