Bill Gates Sebut AI Bisa Sebabkan Kematian 1 Miliar Orang

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 13:15 WIB
Microsoft founder, Co-Chairman of the Bill & Melinda Gates Foundation, Bill Gates delivers a speech during the conference of Global Fund to Fight HIV, Tuberculosis and Malaria on october 10, 2019, in Lyon, central eastern France. - The Global Fund to
Bill Gates memperingatkan bahwa AI tanpa regulasi dapat membunuh satu miliar manusia. (AFP/LUDOVIC MARIN)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri Microsoft Bill Gates menyebut teknologi kecerdasan buatan (AI) dapat membunuh satu miliar manusia jika dibiarkan tanpa kendali. Ia lantas mendesak regulator di Amerika Serikat (AS) untuk membuat regulasi yang mengatur pengembangan teknologi ini.

Gates memperingatkan bahwa jika AI digunakan oleh tangan yang salah, teknologi tersebut dapat memicu rentetan kejadian yang bisa menyebabkan satu miliar kematian.

"Belum pernah ada senjata yang sekuat gabungan antara orang yang berniat jahat dengan alat AI terbaru," ujar Gates dalam wawancara bersama NBC, dikutip The Guardian, Senin (28/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karena itu, Gates menegaskan pemerintah AS perlu turun tangan untuk membuat aturan yang mengatur perkembangan teknologi akal imitasi ini. Menurutnya, aturan mandiri yang dibuat oleh perusahaan tidak cukup untuk mengendalikan kecerdasan AI.

"Anda membutuhkan penegak hukum dan politisi untuk ikut serta dalam diskusi tentang seperti apa bentuk pengamanan dan pengawasan, dan itu harus menjadi pernyataan wajib," kata Gates.

Dia mengakui bahwa jika pemerintah menerapkan aturan keamanan AI, perusahaan teknologi memang harus mengeluarkan biaya ekstra dan administrasi lainnya untuk mengurus birokrasi maupun standar keamanan. Meski demikian, regulasi tersebut tidak akan menghentikan inovasi atau memperlambat laju perkembangan AI.

"Ini (regulasi) mungkin akan sedikit menambah beban biaya operasional bagi industri, tapi tidak akan sampai memperlambat laju pekerjaan mereka secara drastis," imbuh Gates.

Lebih lanjut, Gates turut menanggapi wacana terkait pembuatan tombol darurat yang disebutnya "kill switch" untuk mematikan AI jika dirasa terlalu berbahaya bagi manusia. Ia menilai langkah ini tidak cukup untuk menangani bahaya yang disebabkannya.

Di luar peringatan ini, ia sebenarnya turut optimis soal masa depan umat manusia.

"Punya tombol darurat saja tidak cukup. Kita belum sampai di titik di mana, AI secara mandiri mengambil alih komputer dan tidak bisa dimatikan. Jadi, orang-orang yang meributkan soal itu, malah menunjukkan betapa tidak pahamnya mereka soal hal-hal teknis," jelasnya.

Dalam wawancara tersebut, Gates turut ditanya apakah ada hal tertentu yang membuatnya memilih untuk tidak menggunakan AI, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Ia mengaku tidak menggunakan AI untuk urusan pribadi.

Menurutnya, ia tidak pernah menggunakan AI untuk hal-hal semacam itu karena merasa beruntung memiliki keluarga dan teman-teman di sekitarnya.

"Ya, saya tidak menggunakannya untuk hubungan pribadi. Saya tidak pernah bertanya, 'Hei, kamu suka saya? Apakah saya orang yang baik?" jelas Gates.

"Jadi, saya tidak pernah ke arah sana. Saya beruntung dengan keluarga, teman, dan semuanya. Saya tidak bersosialisasi dengan AI. AI tahu kalau saya orang yang sangat serius," tambahnya.

Wawancara ini terjadi setelah Gates menerbitkan esai panjang di akhir Agustus yang membahas bahaya AI berskala besar bagi umat manusia. Beberapa bos perusahaan pengembang AI di AS seperti Sam Altman dan Elon Musk juga sepemikiran dengannya, menyerukan agar laju pengembangan AI diperlambat.

Beberapa pakar berteori bahwa AI bisa memicu kehancuran massal manusia lewat senjata biologis dan perang nuklir. Senator AS Bernie Sanders bahkan sempat mengusulkan undang-undang untuk memberhentikan sementara pengembangan AI tingkat lanjut sampai batasan-batasannya disiapkan.

Sementara itu, Microsoft turut dikritik karena dianggap punya peran dalam memicu ketakutan soal masa depan AI. Karyawan perusahaan dan para aktivis telah mengorganisir kampanye agar Microsoft memutus hubungan dengan militer Israel.

Berdasarkan esai yang diterbitkan The Guardian, militer Israel bersama pasukan AS menggunakan alat AI untuk membunuh masyarakat di Gaza dan Iran.

(nad/lom)
placeholder