Hacker Bobol Situs Resmi FBI, Curi Data-data Sensitif

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 15:00 WIB
ilustrasi hacker, ilustrasi serangan siber
Ilustrasi. Data sensitif FBI dicuri oleh peretas ShinyHunters, mencakup informasi pegawai dan penugasan intelijen. FBI masih menyelidiki kebocoran ini. (Foto: iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah data sensitif milik Badan Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dicuri oleh sekelompok peretas bernama ShinyHunters. Mereka mengaku telah meretas situs resmi milik FBI.

Data tersebut memuat informasi rinci mengenai penugasan sensitif kepada sejumlah pegawai FBI seperti memata-matai China, intelijen Rusia, kartel narkoba serta berbagai bidang lainnya.

Data yang diretas oleh ShinyHunters berupa spreadsheet berisi 5.000 baris yang berisi nama, alamat, nomor telepon, tanggal lahir, nomor jaminan sosial, serta informasi kontak darurat yang terkait dengan ribuan pegawai FBI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, data tersebut juga memuat penempatan pegawai di kantor-kantor tertentu. Dalam beberapa kasus, informasi ini menunjukkan pegawai yang bertugas di unit yang menangani pekerjaan sensitif di bidang intelijen, keamanan dan kontra-spionase.

Meski demikian, ShinyHunters mengklaim data yang diretasnya ini hanya sebagian kecil dari sekitar 2 hingga 3 terabita data yang telah mereka curi.

Dalam sebuah pernyataan, FBI telah mengetahui sekelompok kriminal siber yang mengklaim membobol portal rekrutmen FBIjobs.gov dan mengakses informasi identitas pribadi pegawainya. FBI menyebut pihaknya masih belum mengetahui penyebab kebocoran data tersebut dan masih menyelidiki kasus ini.

Mengutip Reuters, para peretas mengklaim telah membobol dan mencuri data dalam jumlah besar milik pegawai FBI dengan status yang masih aktif maupun yang sudah tidak bekerja di biro tersebut.

ShinyHunters bahkan mengancam akan menyandera data-data tersebut sampai FBI mencabut pernyataan yang mereka anggap merugikan kelompok tersebut pada bulan Mei lalu.

Eric O'Neill selaku mantan petugas kontraintelijen FBI menyebut data yang diduga dicuri oleh ShinyHunters ini dianalogikan sebagai tambang emas bagi badan intelijen asing.

"China akan sangat tertarik untuk mengetahui siapa saja yang bekerja melawannya," kata O'Neill, dikutip dari Reuters, Kamis (24/9).

O'Neill menilai badan intelijen di negara-negara lain yang menjadi lawan Amerika Serikat (AS) akan sangat tertarik mendapatkan data tersebut. Termasuk, kelompok ekstremis yang tidak puas di AS.

"Kalau saya ada dalam daftar itu, saya akan sangat khawatir," ujarnya.

Sebelumnya, ShinyHunters mengatakan pihaknya berusaha mencegah informasi tentang pegawai FBI ini tersebar luas untuk sementara waktu.

"Kalau 5.000 data sampel itu sampai bocor, itu bukan karena kami," ujar kelompok tersebut.

Pada bulan Mei lalu, FBI menyatakan bahwa ShunyHunters seringkali mengklaim berlebihan terkait akses mereka terhadap informasi sensitif atau pribadi untuk meminta pembayaran dari korban.

ShinyHunters membantahnya dengan menyatakan ancaman dan klaim mereka benar. Kelompok ini menambahkan bahwa pernyataan FBI itulah yang menjadi alasan mereka menargetkan biro tersebut.

Sebelumnya, kelompok peretas ini juga mengklaim telah mencuri jutaan data dari perusahaan pengembang gim Rockstar Games, sekaligus pembuat gim "Grand Theft Auto".

ShinyHunters turut mengaku melakukan serangan terhadap platform pendidikan Canvas yang menyebabkan gangguan luas di berbagai sekolah di Amerika Serikat.

Reuters melakukan membandingkan data 22 orang dari spreadsheet tersebut dengan sumber lain, termasuk catatan kredit dan data kebocoran sebelumnya yang dihimpun oleh platform intelijen dark web District 4 Labs. Hasilnya, informasi ini cocok dengan data dari sumber-sumber tersebut.

Meski demikian, Reuters belum dapat memastikan apakah seluruh isi spreadsheet yang diretas oleh ShinyHunters tersebut benar.

[Gambas:Video CNN]

Sebagian informasi mengenai penugasan dalam data ShinyHunters tidak jauh berbeda dengan informasi yang disampaikan pegawai FBI secara terbuka. Sebagai contoh, data tersebut menyebut agen yang bekerja di kantor lapangan FBI di Baltimore atau Newark, New Jersey.

Dalam beberapa kasus lainnya, data ini menyebut unit atau program FBI yang bersifat sensitif atau keberadaannya belum pernah diungkapkan sebelumnya.

Data ini mencantumkan 14 pegawai yang menangani isu terkait China, termasuk mereka yang disebut bekerja di China criminal enterprise unit, China tech transfer analysis unit dan China intelligence section.

Sementara itu, sembilan pegawai lainnya tercatat menangani pekerjaan yang berhubungan dengan Rusia. Dua di antaranya bekerja di Russia Operations Section, sementara lainnya menangani Russia Critical Infra and Tech Threat atau ancaman terhadap infrastruktur kritis dan teknologi Rusia.

Tiga orang tercatat bekerja di bidang intelijen yang berfokus pada Iran atau Hezbollah.

Data menunjukkan sebanyak 18 pegawai lainnya disebut menangani teknologi penyadapan data atau penyadapan telekomunikasi. Mereka juga tercatat di unit "clandestine technical operations" atau operasi teknis rahasia FBI, covert access section atau bagian akses rahasia, serta dalam pekerjaan yang berkaitan dengan pengawasan video, audio dan perangkat elektronik.

Sementara, sebanyak 11 pegawai FBI lainnya tercatat bekerja di bidang HUMINT (human intelligence) atau intelijen yang diperoleh dari manusia. Beberapa di antaranya disebut bekerja di bagian program HUMINT.

Trevor Hilligoss selaku mantan penyelidik Angkatan Darat AS yang pernah bekerja dengan FBI menyebut inforamsi yang menghubungkan nama-nama tertentu dengan pekerjaan HUMINT sangat mengkhawatirkan.

"Contoh agen yang identitas penyamarannya terbongkar dan kemudian menjadi korban bisa dengan mudah ditemukan," katanya.

Hilligoss turut mengungkap kekhawatirannya yang semakin besar karena data tersebut juga mencantumkan kontak darurat. Kontak ini biasanya merupakan anggota keluarga karyawan FBI.

"Mereka mungkin memiliki pemahaman tentang keamanan operasional yang lebih rendah dibandingkan anggota mereka yang bekerja di bidang sensitif," tambahnya.

(nad/dmi)
placeholder