Ada 'Telor Ceplok' di Kawah Gunung Anak Krakatau, Apa Artinya?

CNN Indonesia
Sabtu, 19 Sep 2026 15:55 WIB
Gunung Anak Krakatau mengeluarkan asap terlihat dari perairan Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Rabu (9/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Rab
Fenomena menyerupai telur ceplok muncul di area kawah Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena menyerupai telur ceplok muncul di area kawah Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. Fenomena tersebut terlihat setelah aktivitas erupsi besar Gunung Anak Krakatau pada 3 September 2026 mereda.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @wxchasing, terlihat genangan dengan warna menyerupai kuning telur di kawasan Gunung Anak Krakatau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Video tersebut memperlihatkan kondisi GAK yang relatif tenang setelah erupsi sebelumnya menyebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah, mulai dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta hingga Jawa Barat.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan fenomena tersebut merupakan hal yang wajar setelah aktivitas erupsi. Genangan yang tampak seperti telur ceplok itu merupakan air yang terkontaminasi gas belerang.

"Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang," kata Suwarno, dikutip dari detikSumbagsel, Jumat (18/9).

Menurut Suwarno, fenomena serupa tidak selalu muncul di setiap gunung api. Pada Gunung Anak Krakatau, warna genangan tersebut terbentuk karena air di kawah bercampur dengan belerang dan material dari lapisan dinding kawah.

"Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu," jelasnya.

Meski erupsi besar telah mereda, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Suwarno mengatakan kegempaan masih tercatat di kawasan gunung tersebut.

Pada Jumat (18/9) dini hari, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik. Selain itu, tercatat satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik.

"Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm)," katanya.

Suwarno mengatakan status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.

[Gambas:Instagram]

(lau/end)
placeholder