Zuckerberg Tak Setuju AI Direm, Sebut Perusahaan Bisa Jaga Diri

CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 18:15 WIB
CEO Meta Mark Zuckerberg menolak seruan perlambatan pengembangan AI
CEO Meta Mark Zuckerberg menolak seruan perlambatan pengembangan AI. (Foto: REUTERS/Manuel Orbegozo)
Jakarta, CNN Indonesia --

CEO Meta Mark Zuckerberg tak sependapat dengan seruan agar perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) memperlambat pengembangan teknologi secara bersama-sama.

Menurut Zuckerberg, persaingan dan potensi tanggung jawab hukum sudah memberi cukup insentif bagi perusahaan AI untuk menjaga keamanan sistem mereka masing-masing.

Pernyataan itu menunjukkan perbedaan sikap di antara para petinggi industri AI terkait cara merespons kekhawatiran perkembangan teknologi bergerak lebih cepat dibanding kemampuan perusahaan untuk mengendalikannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam unggahan di X pada Selasa (15/9), Zuckerberg mengatakan setiap laboratorium AI memiliki tanggung jawab dan insentif untuk menentukan sendiri kecepatan pengembangan yang diperlukan agar model mereka tetap aman.

Ia juga menilai masing-masing perusahaan memiliki kemampuan untuk mengambil langkah pengamanan tanpa perlu menunggu koordinasi industri secara luas.

Pernyataan Zuckerberg muncul tiga hari setelah CEO Anthropic Dario Amodei meminta perusahaan AI memperlambat peningkatan kemampuan model.

Seruan tersebut muncul setelah sejumlah peneliti memperingatkan adanya risiko eksistensial dari perkembangan AI.

CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik xAI Elon Musk kemudian secara terbuka mendukung seruan Amodei.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya juga mengecilkan kekhawatiran terhadap potensi bahaya AI, bahkan menyebutnya sebagai hoaks.

Trump mengatakan AS sudah memiliki sejumlah pembatas atau guardrails untuk teknologi tersebut dan memperingatkan bahwa keraguan terhadap pengembangan AI justru bisa menguntungkan China.

Pandangan regulasi berlebihan dapat menghambat daya saing perusahaan AS juga disampaikan sejumlah eksekutif teknologi, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang.

Zuckerberg sendiri menilai kemampuan membangun kepercayaan dan alignment akan menjadi faktor penting yang membedakan model dan agen AI ke depan.

"Kepercayaan dan alignment dengan cepat menjadi kemampuan paling penting yang akan membedakan agen dan model," kata Zuckerberg, dikutip dari Reuters.

"Laboratorium mana pun yang tidak fokus pada alignment akan tertinggal," lanjutnya.

Menurutnya, perusahaan AI juga memiliki insentif kuat untuk mencegah model mereka menimbulkan bahaya karena jika gagal, mereka dapat menghadapi tanggung jawab hukum yang signifikan.

Ia mencontohkan keputusan Meta menunda peluncuran agen AI Muse pada awal tahun ini untuk memperkuat keamanannya.

"Kami tidak meminta semua orang melakukan hal yang sama sebelum kami melakukannya. Kami hanya melakukannya sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari karena jelas itu hal yang tepat bagi orang-orang dan bagi kami," ujarnya.

Lebih lanjut, Zuckerberg juga menyinggung usulan penggunaan evaluator independen untuk menguji sistem AI.

Ia mengatakan Meta Superintelligence Labs sudah menggunakan evaluator independen di beberapa area dan menyebut praktik tersebut sebagai industry best practice.

Menurutnya, perusahaan AI lain juga bisa menerapkan langkah serupa tanpa harus menunggu kesepakatan industri.

Perbedaan utama antara Zuckerberg dan Amodei terletak pada gagasan perlambatan terkoordinasi.

Amodei sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan kemampuan recursive self-improvement, yakni kemampuan AI untuk meningkatkan kemampuannya sendiri.

Sementara Zuckerberg mengatakan Meta sudah mengalokasikan sebagian besar daya komputasinya untuk membuat produk yang melayani kebutuhan pengguna saat ini, bukan mengejar sistem AI yang dapat memperbaiki dirinya sendiri secara terus-menerus.

(lom)
placeholder