Trump Tolak AI Disebut Ancam Dunia, Anggap Cuma Hoaks

CNN Indonesia
Selasa, 15 Sep 2026 08:30 WIB
Presiden Trump menolak seruan untuk memperlambat AI, menyebut kekhawatiran sebagai hoax. Ia tetap mendukung pembangunan pusat data untuk teknologi AI.
Presiden AS Donald Trump menolak seruan untuk memperlambat AI, menyebut kekhawatiran sebagai hoax. Ia tetap mendukung pembangunan pusat data untuk teknologi AI. (Foto: AFP/JIM WATSON)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump geram dan menolak seruan para bos teknologi yang ingin memperlambat laju perkembangan kecerdasan buatan (AI), karena teknologi dianggap dapat menghancurkan dunia dan mengancam kehidupan umat manusia.

Hal tersebut disampaikan Trump dalam rentetan unggahan di media sosial miliknya, Truth Social pada Senin (14/9). Ia menyebut berbagai kecemasan yang disampaikan oleh para bos-bos teknologi hingga para peneliti itu sebagai bualan atau hoaks.

Ia juga membandingkan hal ini dengan isu pemanasan global, yang menurutnya adalah sebuah hoaks. Trump menegaskan tetap mendukung pembangunan pusat data untuk menopang teknologi AI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang-orang yang mengatakan AI bakal menghancurkan dunia dan pusat data itu buruk buat lingkungan sekitar adalah orang yang sama yang dulu menyebut bahwa dunia bakal kiamat karena perubahan iklim," kata Trump di Truth Social, melansir CNN, Senin (14/9).

"Hoax itu tak pernah terbukti dan sekarang mereka berpindah ke isu hoaks berikutnya," lanjut dia.

Hingga Senin malam waktu setempat, Trump tercatat sudah mengunggah enam pernyataan terkait masalah ini. Ia juga sempat menelpon CEO Nvidia Jensen Huang untuk menegaskan bahwa robot tidak akan mengambil alih dunia.

"Saya juga pakai logika sehat soal AI ini. Robot tidak akan mengambil alih dunia. AI tidak akan menguasai kita. Semua kekhawatiran itu cuma dibesar-besarkan," jelas dia.

Trump mengaku kepada wartawan bahwa ia menggunakan AI secara pribadi, meski para penasihatnya menjelaskan penggunaan itu terbatas pada pembuatan gambar untuk diunggah ke media sosial.

Selain Trump, Wakil Presiden AS JD Vance juga meragukan motivasi di balik sikap para eksekutif teknologi yang gencar meminta pengawasan dari pemerintah.

"Memang ada risiko nyata dari AI, tapi manfaatnya juga ada. Jujur saja, saya agak aneh melihat begitu banyak perusahaan teknologi terdepan justru datang dan memohon ke pemerintah agar mereka diregulasi," kata Vance.

Sikap yang diambil Gedung Putih ini berseberangan dengan pandangan masyarakat umum yang makin skeptis terhadap AI. Masyarakat khawatir terkait potensi hilangnya lapangan pekerjaan yang bisa saja direbut oleh AI dan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari banyaknya pusat data untuk menopang kemajuan teknologi akal imitasi tersebut.

Sebelumnya, CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan pentingnya memperlambat laju perkembangan AI lantaran risiko keamanan yang mengkhawatirkan.

Dalam sebuah esai sepanjang 3.800 kata, ia mengakui bahwa manusia mungkin dapat kehilangan kendali atas AI. Menurutnya, teknologi ini juga dapat disalahgunakan untuk serangan siber, bioterorisme, serta gangguan ekonomi yang serius.

[Gambas:Video CNN]

Dalam wawancaranya dengan Anderson Cooper dari CNN pada Sabtu (12/9), Amodei menyerukan kepada para pemimpin industri untuk bekerja sama menghindari kesalahan dan potensi bahaya AI terhadap umat manusia.

"Jika kita terlambat, saya percaya ada orang jahat yang akan menyalahgunakan teknologi tersebut," katanya, dikutip dari CNN.

Pernyataan Amodei ini muncul setelah pengunduran diri seorang peneliti Anthropic karena kekhawatiran perusahaan dan para pesaingnya tidak melakukan tindakan yang bertanggung jawab dalam pengembangan AI.

Mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon berkomentar di X pada Selasa (8/9) soal ketidakpedulian pengembang AI terhadap risiko bahaya yang dapat ditimbulkan oleh produknya, meskipun mereka telah menyadarinya.

"Banyak eksekutif dan peneliti senior akan menyusun kalimat mereka di media agar terdengar masuk akal, tetapi saya mendengar mereka mengungkapkan ketakutan secara pribadi. Tidak ada aktivitas manusia lain yang menimbulkan tingkat bahaya seperti ini," tulisnya.

(dmi)