Daftar Daerah Terpanas Indonesia September 2026, Ini Juaranya

CNN Indonesia
Jumat, 11 Sep 2026 17:00 WIB
Visitors walk past the bronze, seated Buddha at the Kotoku-in monastery in Kamakura, Japan. The interior of the Buddha, which is usually accessible to tourists, was closed today due to a heatstroke warning in Kanagawa prefecture. August 19, 2025. REU
Ilustrasi. BMKG mencatat suhu maksimum di Indonesia mencapai 38,6 derajat Celsius pada awal September. (Foto: REUTERS/Suzanne Plunkett)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara maksimum di sejumlah wilayah Indonesia menembus lebih dari 36 derajat Celsius pada awal September lalu.

Suhu tertinggi tercatat di Stasiun Meteorologi Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat, yang mencapai 38,6 derajat Celsius pada 1 September.

Angka tersebut sekaligus menjadi suhu maksimum tertinggi yang tercatat BMKG selama periode 1-9 September 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama periode 1-9 September 2026, suhu maksimum harian di sejumlah wilayah Indonesia berkisar antara 37,0-38,6 derajat Celsius, dengan suhu udara maksimum tertinggi tercatat pada 1 September sebesar 38,6 derajat Celsius di Stasiun Meteorologi Tebelian Sintang, Kalimantan Barat," tulis BMKG dalam Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan periode 11-17 September 2026.

Berdasarkan data suhu maksimum harian pada periode 1 September pukul 07.00 WIB hingga 2 September pukul 07.00 WIB, berikut daftar 10 stasiun dengan suhu tertinggi:

1. Stamet Tebelian: 38,6 derajat Celsius
2. Stamet Nangapinoh: 37,6 derajat Celsius
3. Stamet Pangsuma: 36,7 derajat Celsius
4. Stageof Lampung Utara: 36,6 derajat Celsius
5. Stamet Kalimarau: 36,3 derajat Celsius
6. Stamet Kasiguncu: 36,2 derajat Celsius
7. Stamet Mutiara Sis-Al Jufri: 36,1 derajat Celsius
8. Taman Alat Digital Staklim Sumsel: 36,0 derajat Celsius
9. Stamet Syamsudin Noor: 35,9 derajat Celsius
10. Stamet Tjilik Riwut: 35,8 derajat Celsius

BMKG menjelaskan suhu tinggi tersebut terjadi di tengah kondisi atmosfer Indonesia yang relatif kering selama musim kemarau.

Kondisi kering saat ini juga tidak terlepas dari pengaruh El Niño yang masih berada dalam kategori sangat kuat.

Berdasarkan pemantauan suhu muka laut di wilayah Niño 3.4, anomali tercatat sebesar +2,74 derajat Celsius pada Dasarian III Agustus 2026.

Sementara itu, rata-rata anomali sepanjang Agustus mencapai +2,83 derajat Celsius, dengan rata-rata tiga bulan Juni-Juli-Agustus sebesar +2,2 derajat Celsius.

BMKG menyebut nilai tersebut masih berpotensi meningkat karena El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Kombinasi atmosfer kering dan suhu udara tinggi, kata BMKG, turut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemantauan hotspot selama 10 hari terakhir menunjukkan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah.

Kalimantan Tengah mencatat akumulasi tertinggi sebanyak 2.526 titik, disusul Kalimantan Barat dengan 2.102 titik, Sumatera Selatan 1.180 titik, dan Papua Selatan 570 titik.

BMKG mengatakan tingginya jumlah titik panas perlu menjadi perhatian karena menunjukkan peningkatan potensi karhutla yang dapat memicu meluasnya sebaran asap.

Citra Satelit Himawari-9 pada 10 September pukul 13.00 WIB juga menunjukkan asap tersebar di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

Kondisi atmosfer yang relatif kering disebut turut membantu mendukung penyebaran asap tersebut.

Kebakaran di lahan gambut juga dapat berlangsung lebih lama dan lebih sulit dipadamkan karena api dapat menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah.

BMKG mengingatkan kombinasi udara kering dan suhu tinggi berpotensi meningkatkan karhutla, menurunkan kualitas udara, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Meski musim kemarau masih mendominasi, BMKG mencatat hujan lebat hingga sangat lebat tetap terjadi di beberapa wilayah.

Pada 7-9 September, curah hujan mencapai 141,6 mm per hari di Sumatera Utara, 114 mm per hari di Sumatera Barat, 108,5 mm per hari di Aceh, 67 mm per hari di Sulawesi Tengah, dan 65 mm per hari di Kalimantan Utara.

Hujan tersebut dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta daerah belokan dan pertemuan angin.

Suhu muka laut yang relatif hangat dan faktor lokal seperti topografi, pemanasan permukaan, serta interaksi angin darat-laut juga ikut mendukung pertumbuhan awan hujan.

BMKG mengingatkan kondisi ini menunjukkan hujan lebat tetap dapat terjadi di tengah musim kemarau, terutama dalam durasi singkat dengan intensitas tinggi.

(lom)
placeholder