Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap hujan yang belum turun pada puncak musim kemarau membuat sisa abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau bertahan lebih lama di udara.
BMKG menyebut material vulkanik tersebut juga membaur dengan polusi perkotaan, terutama di Jakarta.
"Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara," tulis BMKG dalam unggahan Instagram, Selasa (8/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analisis kualitas udara BMKG pada periode 1-7 September menunjukkan konsentrasi PM2.5 mengalami lonjakan pada 5 September.
BMKG juga mendeteksi intrusi debu vulkanik berupa partikel kasar yang meningkat pada 6 September sebelum mulai mengalami peluruhan pada 7 September.
Data konsentrasi PM2.5 menunjukkan kenaikan pada 5 September tercatat di Lampung dan Jakarta.
Namun, BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Jakarta memang sudah berada pada tingkat relatif tinggi sebelum tanggal tersebut akibat polusi yang biasa terjadi di wilayah perkotaan.
Dalam data yang ditampilkan BMKG, konsentrasi PM2.5 per Senin (7/9) pagi di Pesawaran, Lampung tercatat 30,6 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan di Kemayoran, Jakarta berada di angka 25,3 µg/m³.
BMKG menjelaskan kondisi atmosfer Jakarta sejak awal September secara umum sudah dipenuhi aerosol.
Hal itu terlihat dari tren Aerosol Optical Depth (AOD) harian pada 1-6 September 2026.
AOD menunjukkan ketebalan aerosol di atmosfer, tetapi tidak dapat membedakan jenis partikelnya.
Untuk melacak masuknya debu vulkanik, BMKG menggunakan parameter Ångström Exponent (AE) yang berkaitan dengan ukuran partikel di udara.
Pada pukul 06.00-07.30 WIB, nilai AE terpantau berada pada titik terendah dan turun di bawah 1,0.
BMKG menyebut kondisi itu menunjukkan dominasi partikel kasar yang berasal dari erupsi.
Memasuki siang hari, nilai AE kembali meningkat karena abu mulai mengendap dan udara kembali bercampur dengan emisi partikel halus dari kendaraan dan industri.
Analisis distribusi ukuran partikel juga menunjukkan perubahan pola pada 6 September.
Sehari sebelumnya, aerosol masih didominasi partikel halus berdiameter sekitar 0,11-0,25 mikrometer (µm).
BMKG menyebut peningkatan partikel halus tersebut mengindikasikan adanya akumulasi emisi polusi lokal atau pembentukan aerosol sekunder yang kuat.
Pada 6 September, jumlah partikel kecil menurun tajam, sementara partikel kasar meningkat hingga mencapai puncak tertinggi mingguan pada rentang diameter 3,86-5,06 µm. Partikel kasar ini disebut berasal dari erupsi.
Kemudian pada 7 September, volume partikel aerosol halus maupun kasar mengalami penurunan secara keseluruhan, yang menunjukkan proses peluruhan aerosol di atmosfer.
BMKG mengingatkan masyarakat, khususnya di Jakarta, untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan karena sisa debu vulkanik masih dapat bercampur dengan polusi perkotaan.
"Jangan terkecoh dan melepas masker hanya karena mengira langit yang berkabut itu polusi biasa, padahal kenyataannya itu adalah 'paparan ganda' yang masih bercampur dengan material debu vulkanik," tulis BMKG.


