Ternyata Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa, Ini Alasannya
Para astronaut yang bertugas di luar angkasa ternyata sering mengalami masalah sembelit atau sulit buang air besar. Sebuah penelitian baru yang terbit di jurnal Nature Communications pada 29 Juni 2026 berhasil mengungkap alasannya.
Para peneliti melakukan studi ini kepada 52 astronaut yang tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menunjukkan bahwa kondisi mikrogravitasi dapat memperlambat pergerakan makanan di dalam usus, yang kemudian mengubah cara bakteri usus memecah nutrisi.
Sembelit merupakan keluhan umum di kalangan astronaut, tapi selama ini belum ada penjelasan ilmiah mengenai masalah tersebut. Untuk mencari tahu penyebabnya, para peneliti dari Universitas Copenhagen dan NASA kemudian menganalisis sampel darah para astronaut sebelum, selama, dan sesudah menjalankan misi di ISS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mengamati perubahan pada sampel yang mengindikasikan bahwa bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah yang lebih tinggi dari biasanya, hanya dalam hitungan minggu setelah astronaut tiba di luar angkasa. Perubahan ini terus berlangsug hingga mereka kembali ke Bumi," kata Giorgia La Barbera, salah satu penulis utama penelitian tersebut, melansir Space, Selasa (18/8).
Tim peneliti menggunakan teknik metabolomik untuk mengukur molekul-molekul kecil yang beredar dalam daerah. Metode ini memberikan gambaran biokimia tentang bagaimana tubuh astronaut, serta mikroba di dalamnya, merespons kondisi luar angkasa.
Secara keseluruhan, peneliti menganalisa 488 sampel plasm dari 52 astronaut yang menghabiskan waktu antara dua hingga sembilan bulan di ISS antara tahun 2006 dan 2018. Mereka menemukan perubahan pada sekitar 40 senyawa dalam sirkulasi darah selama penerbangan luar angkasa, termasuk beberapa metabolit yang dihasilkan saat bakteri di usus besar memfermentasi protein.
Menurut para peneliti, senyawa-senyawa ini kemudian meningkat selama astronaut berada di luar angkasa, yang menandai bahwa makanan membutuhkan waktu lebih lama untuk melewati usus.
Normalnya, bakteri di usus besar memfermentasi serat dan karbohidrat untuk menghasilkan energi. Namun, ketika pencernaan melambat, pasokan karbohidrat dapat habis, sehingga mikroba beralih memecah lebih banyak protein dan menghasilkan metabolit berbeda yang masuk ke aliran darah.
Perubahan ini muncul tak lama setelah astronaut memasuki luar angkasa dan sebagian besar mereda dalam beberapa hari setelah mereka kembali ke Bumi.
Perbedaan pola makan, seperti asupan kafein, ikan, dan lemak, hanya menyumbang kurang dari seperti perubahan metabolik tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa faktor makanan saja tidak cukup untuk menjelaskan efek ini.
"Kurangnya gravitasi di luar angkasa juga kemungkinan besar membuat makanan bergerak lebih lambat di dalam usus, sejalan dengan bukti meningkatnya fermentasi protein. Kondisi ini yang diduga menjadi penyebab sembelit pada astronaut," kata Henrik Roager, salah satu penulis studi.
Acuan pola makan
Temuan ini diharapkan dapat membantu para peneliti merancang strategi pola makan untuk menjaga sistem pencernaan astronaut tetap lancar selama misi masa depan ke Bulan dan Mars, sekaligus memberikan petunjuk baru mengenai gangguan pencernaan di Bumi.
Meski para peneliti tidak mengukur kecepatan pergerakan makanan secara langsung, perubahan metabolik yang teramati mengarah pada kesimpulan bahwa pergerakan di dalam usus memang melambat.
Temuan ini menjadi semakin krusial mengingat astronaut akan menghabiskan waktu lebih lama di luar Bumi. Selain rasa tidak nyaman akibat sembelit, peningkatan fermentasi protein dapat menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida.
Beberapa metabolit yang terkait dengan proses ini juga dihubungkan dengan efek negatif lainnya bagi kesehatan. Solusi penanganannya mungkin cukup sederhana, yakni dengan menambah asupan serat.
Tidak hanya itu, tim peneliti menyarankan untuk meningkatkan konsumsi karbohidrat yang terfermentasi secara perlahan agar mikroba usus memiliki cukup karbohidrat dan tidak terlalu bergantung pada fermentasi protein.

