Eks Karyawan Tuduh Zuckerberg Bohong Soal Keselamatan Anak di Medsos

CNN Indonesia
Kamis, 20 Agu 2026 18:15 WIB
Mantan pegawai Meta, Arturo Bjar, mengungkap bahaya produk perusahaan bagi anak-anak dalam persidangan.
Ilustrasi. Mantan pegawai Meta, Arturo Béjar, mengungkap bahaya produk perusahaan bagi anak-anak dalam persidangan. (Foto: REUTERS/DADO RUVIC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan safety engineer senior Meta Arturo Béjar blak-blakan mengatakan bekas perusahaannya telah lama menyadari potensi bahaya produk mereka bagi anak-anak. Namun begitu, perusahaan tetap mengabaikan masalah ini.

Pernyataan tersebut disampaikannya selama persidangan di Oakland, California, terkait gugatan yang diajukan sejumlah negara bagian Amerika Serikat mengenai dampak Facebook dan Instagram ke remaja dan anak di bawah 16 tahun.

Dalam kesaksiannya, Béjar mengaku telah memperingatkan CEO Meta Mark Zuckerberg soal masalah-masalah yang ditemukannya, termasuk rekomendasi yang menaikkan konten dari predator seksual serta gambar-gambar kekerasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir The Guardian (19/8), selama dua hari persidangan tersebut Béjar mengungkapkan penelitiannya mengenai bahaya terhadap anak serta ketergantungan Meta pada iklan untuk menghasilkan uang. Ia menyebut fitur-fitur seperti infinite scroll membuat pengguna terpaku pada dunia maya dan menguntungkan bagi Meta.

"Ketika pengguna scrolling, semakin banyak tayangan yang Anda dapatkan,semakin banyak iklan yang Anda jual, dan semakin banyak pendapatan yang Anda hasilkan," demikian kesaksian Béjar.

Béjar mengaku telah berbicara langsung dengan Zuckerberg lebih dari 100 kali. Dalam email yang menjadi bukti persidangan, ia telah memperingatkan Zuckerberg sejak tahun 2021 soal laporannya mengenai konten kekerasan dan berbahaya bagi remaja di Facebook dan Instagram.

Béjar mengirim email tersebut setelah Zuckerberg membuat pernyataan secara publik bahwa perusahaannya memprioritaskan keselamatan di atas keuntungan. Namun, Zuckerberg tidak pernah memberi tanggapan untuk semua laporannya.

"Saya merasa bahwa dia menciptakan kesan yang salah dan menyesatkan tentang komitmen Facebook terhadap anak muda," ungkap Béjar.

Persidangan ini diajukan oleh 29 jaksa agung negara bagian AS atas tuduhan bahwa Meta secara sengaja merancang produk adiktif yang merugikan remaja.

Perusahaan tersebut juga dituduh melanggar hukum karena telah mengumpulkan data anak-anak di bawah 13 tahun tanpa izin orang tua.

Persidangan yang dimulai sejak hari Selasa ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya selama enam minggu. Sejumlah dokumen internal dan email Meta telah dirilis sebagai bukti.

Zuckerberg dan CEO Instagram Adam Mosseri turut dipanggil sebagai saksi pada persidangan tersebut, bersama dengan para eksekutif lainnya, serta ahli kesehatan mental dan kecanduan anak-anak.

Meta membantah semua tuduhan dalam kasus ini. Pengacara Paul Schmidt membenarkan adanya kemungkinan seseorang dapat mengalami permasalahan dari sosial media.

Namun, perusahaan telah berupaya mengatasi risiko-risiko dengan tidak mengizinkan anak-anak untuk mendaftar akun jejaring sosialnya. Meta juga telah menonaktifkan lebih dari 1 juta akun pengguna di bawah usia 13 tahun.

Proses hukum ini berisiko membawa dampak besar bagi Meta. Jika dinyatakan bersalah, perusahaan terancam ganti rugi sebesar $200 miliar (Rp3,55 kuadriliun), jumlah yang setara dengan pendapatan tahunan mereka.

(fta/dmi)
placeholder