Super El Nino 150 Tahun Lalu Tewaskan 50 Juta Orang, Apa yang Terjadi?

CNN Indonesia
Kamis, 30 Jul 2026 10:02 WIB
ilustrasi el nino
Ilustrasi. Pakar iklim memprediksi El Nino 2026 akan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun, berpotensi memecahkan rekor suhu dan menimbulkan dampak signifikan global. (Foto: Tangkapan layar web nasa.gov)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakar iklim memprediksi El Nino tahun 2026 bakal menjadi yang terkuat dalam 150 tahun. Bahkan, hasil pemodelan iklim menunjukkan bahwa El Nino tahun ini dapat memecahkan rekor-rekor yang pernah tercatat sebelumnya.

Ilmuwan iklim dari Berkeley Earth Zeke Hausfather mengatakan, proyeksi terbaru mengindikasikan bahwa puncak El Nino kali ini bakal melampaui rekor tertinggi sebelumnya.

Ia menganalisis hasil simulasi 14 model prakiraan musiman yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa puncak suhu permukaan laut di Samudra Pasifik berisiko melonjak hingga sekitar 3,6°C di atas rata-rata, dan angka itu 0,8°C lebih tinggi dibanding rekor Super El Nino sebelumnya pada periode 2015-2016.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai gambaran, selisih suhu antara El Nino terkuat dan terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya sekitar 0,5°C," kata Hausfather, melansir Gizmodo, Senin (27/7).

Bayang-bayang bencana 150 tahun lalu

Proyeksi seperti ini bukan sekadar angka. Sekitar 150 tahun lalu, dunia pernah dilanda salah satu El Nino terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah, yakni periode 1876-1878.

Melansir USA Today, fenomena itu memicu kekeringan parah di sejumlah kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Kekeringan itu berujung pada rangkaian bencana kelaparan besar yang dikenal sebagai Global Famine.

Beberapa peristiwa yang tercatat antara lain Bencana Kelaparan Besar 1876-1878 di India, Grande Seca di Brasil, dan Kelaparan China Utara 1876-1879. Ketiganya diperkirakan menewaskan lebih dari 50 juta jiwa.

Dampaknya bahkan menjalar sampai Amerika Utara. Sejumlah wilayah di Amerika Serikat kala itu mengalami musim dingin yang tidak biasa hangatnya, hingga periode itu dijuluki 'Tahun Tanpa Musim Dingin'.

Para ilmuwan masih memperdebatkan seberapa kuat El Nino saat itu dibanding peristiwa besar lainnya, mengingat data pengamatan laut pada akhir adab ke-19 masih sangat terbatas. Sebuah studi tahun 2020 yang terbit di Journal of Climate memakai rekonstruksi suhu permukaan laut untuk menaksir ulang kekuatan peristiwa tersebut.

Hasilnya, El Nino 1877-1878 masuk kategori salah satu yang terkuat dalam sejarah. Namun begitu, secara statistik, intensitasnya ternyata tidak jauh berbeda dari El Nino modern seperti 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.

Bukan cuma soal kekuatan El Nino

Ilmuwan iklim mengingatkan bahwa pelajaran dari peristiwa 1870-an bukan berarti setiap El Nino kuat otomatis berujung bencana serupa. Berbeda dari bencana yang datang tiba-tiba tanpa peringatan, El Nino berkembang dalam hitungan bulan sehingga bisa dipantau jauh-jauh hari.

Emily Becker, peneliti di Institute for Marine and Atmospheric Studies di University of Miami, mengatakan bahwa El Nino dapat menimbulkan dampak bencana bagi beberapa wilayah di dunia, baik dalam bentuk banjir maupun kekeringan.

"Namun, dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dahsyat yang datang tiba-tiba tanpa peringatan, para ilmuwan sudah mengetahui jauh-jauh hari bahwa El Niño akan datang," ujar Emily.

Salah satu pembeda utama antara peristiwa akhir abad ke-19 dan saat ini adalah soal peringatan dini. Ilmuwan modern kini memiliki satelit, jaringan pemantauan laut, model iklim, hingga sistem prakiraan musiman untuk melacak perkembangan El Nino dan mengantisipasi dampaknya.

Bukan satu-satunya penyebab

Meski begitu, El Nino bukan satu-satunya penyebab tewasnya 50 juta orang pada periode 1870-an itu. Studi tahun 2018 menemukan bahwa Global Famine muncul dari kombinasi tak biasa beberapa kondisi iklim, yakni El Nino kuat, Indian Ocean Dipole dengan intensitas rekor, dan suhu Samudra Atlantik Utara yang jauh lebih hangat dari biasanya.

Oleh karena itu, ilmuwan menilai bahwa kecil kemungkinan bencana serupa 1870-an bakal terulang persis sama. Pasalnya, peristiwa El Nino 1877-1878 sejatinya hanya satu bagian dari krisis yang jauh lebih besar.

Keputusan politik, kebijakan kolonial, ketimpangan ekonomi, hingga kegagalan sistem pangan dan air saat itu ikut mengubah gagal panen massal menjadi bencana yang menewaskan puluhan juta orang.

Sistem pangan, praktik pertanian, hingga jaringan tanggap darurat modern disebut sudah jauh berubah dibanding akhir abad ke-19. Karena itu, bencana sebesar skala 1870-an dinilai kecil kemungkinannya terulang dengan pola yang sama.

Meski begitu, para pakar tetap mengingatkan bahwa El Nino yang tengah berkembang saat ini berpotensi menimbulkan tantangan signifikan, mulai dari perubahan pola curah hujan, gelombang panas ekstrem, hingga tekanan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air di berbagai belahan dunia.

(dmi)


[Gambas:Video CNN]