Studi: Manusia Hobbit Flores Santap Makanan Sisa Komodo

CNN Indonesia
Selasa, 07 Jul 2026 16:06 WIB
Gua Liang Bua di Flores, tempat penemuan fosil Manusia Hobbit atau disebut juga Manusia Flores.
Gua Liang Bua di Flores, tempat penemuan fosil Manusia Hobbit atau disebut juga Manusia Flores. (Foto: CNNIndonesia/Windratie)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa Homo floresiensis atau Manusia Hobbit dari Indonesia ternyata adalah pemakan bangkai atau menyantap sisa-sisa makanan dari komodo. Ini menunjukkan bahwa mereka bukan pemburu handal yang mampu melumpuhkan hewan besar.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances ini menambah panjang daftar bukti yang menunjukkan bahwa Homo floresiensis, ternyata tidak semaju yang dikira oleh para ilmuwan sebelumnya.

Fosil kerabat manusia berukuran kerdil ini pertama kali ditemukan oleh para arkeolog di Gua Liang Bua, Pulau Flores, NTT, Indonesia, pada tahun 2003. Makhluk ini memiliki tengkorak seukuran buah jeruk bali dengan tinggi badan diperkirakan hanya sekitar 1 meter.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sekitar fosil Homo floresiensis, para peneliti saat itu juga menemukan alat-alat batu dan tulang-tulang Stegodon florensis, kerabat gajah purba yang sudah punah dan berukuran sebesar kerbau.

Temuan awal ini sempat membuat para ahli berspekulasi bahwa para 'hobbit' berburu hewan besar menggunakan perkakas tersebut. Temuan tulang hewan kecil yang hangus juga sempat memunculkan dugaan bahwa mereka sudah bisa menggunakan api.

Perilaku seperti itu biasanya dikaitkan dengan rumpun manusia berotak besar, seperti Neanderthal, Homo sapiens, atau Homo erectus yang hidup antara 1,89 juta hingga 110.000 tahun lalu. Dugaan kemampuan berburu dan menggunakan api inilah yang sebelumnya membuat sebagian peneliti meyakini bahwa para hobbit berkerabat dekat dengan Homo erectus.

Namun, tim peneliti baru-baru ini menelisik lebih dalam bagaimana Homo floresiensis yang bertahan hidup di pulau terisolasi tersebut pada periode sekitar 190.000 hingga 50.000 tahun lalu.

Elizabeth Grace Veatch, paleoantropolog yang meneliti evolusi diet manusia dan interaksinya dengan hewan, bersama timnya kemudian melakukan analisis menyeluruh terhadap tulang-tulang Stegodon yang ditemukan di Flores untuk membedah apa yang terjadi pada hewan tersebut setelah mati.

"Saya ingin membuktikan apakah kita benar-benar bisa mengonfirmasi status H. floresiensis sebagai pemburu tangguh, seperti yang digambarkan selama puluhan tahun ini," kata Veatch, penulis utama studi, melansir CNN, Sabtu (4/7).

Meneliti pola gigitan komodo

Para peneliti mencatat ada ribuan alat batu yang ditemukan bersama fosil Homo floresiensis. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia purba tersebut membuat alat dari batuan rijang untuk menyayat daging dari tulang Stegodon.

Namun, mereka ingin memastikan apakah bekas luka pada tulang Stegodon tersebut benar-benar menunjukkan bahwa para hobbit ini berburu Stegodon. Sebagai gambaran, Stegodon dewasa memiliki bobot sekitar 570 kilogram dengan tinggi bahu mencapai 1,5 meter.

Para peneliti kemudian pergi Kebun Binatang Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, untuk mengamati seekor komodo bernama Rinca saat mencabik bangkai kambing. Pengamatan ini bertujuan untuk memahami dengan tepat bagaimana pola bekas gigitan yang ditinggalkan oleh kadal raksasa tersebut pada tulang.

Mereka kemudian menggunakan teknik pemindaian 3D pada tulang kambing sisa makanan komodo tersebut untuk membandingkannya dengan bekas sayatan alat batu buatan manusia, serta buka luka pada tulang Stegodon dari Gua Liang Bua.

"Setelah membandingkan tanda pada tulang Stegodon dengan sampel gigitan komodo dan melihat bekas sayatan alat bantu, saya terkejut melihat betapa miripnya sebagian besar tanda di tulang purba itu dengan sampel gigitan komodo kami," ujar dia.

Bekas gigitan komodo paling banyak ditemukan di bagian tubuh Stegodon yang paling berdaging. Sementara itu, bekas sayatan dari alat batu milik para hobbit justru ditemukan di bagian-bagian tubuh sisa atau kurang berdaging.

Berdasarkan bukti ini, para peneliti menyimpulkan bahwa skenarionya mirip dengan cara komodo berburu kerbau saat ini. Para peneliti berkeyakinan bahwa komodo melumpuhkan Stegodon dengan gigitan berbisanya, dan setelah situasi aman, Homo floresiensis datang untuk menyayat sisa-sisa daging yang tertinggal.

Para hobbit ini juga tidak keracunan bisa komodo saat memakan daging tersebut. Pasalnya, bisa komodo mengandung protein yang akan langsung hancur oleh enzim di saluran pencernaan lambung.

Untuk mencari penggunaan api, tim peneliti menganalisis tulang-tulang tikus yang berserakan di gua tersebut. Jika para hobbit memang pernah membuat perapian di dalam gua, tulang-tulang tikus di lapisan bawahnya pasti akan menunjukkan tanda-tanda hangus.

Namun, dari 4.500 tulang tikus yang diteliti, tidak ada satu pun yang terbakar. Tulang Stegodon juga bersih dari bekas panggangan.

Para peneliti menduga bahwa segelintir tulang hangus yang ditemukan di lapisan arkeologi yang lebih muda merupakan jejak dari aktivitas Homo sapiens yang mulai menempati gua sekitar 46.000 tahun lalu, jauh setelah Stegodon dan Homo floresiensis punah dari pulau tersebut.

Besar kemungkinan Homo floresiensis bertahan hidup dengan memakan daging mentah hasil buruan hewan lain, tanaman, serta serangga. Mereka mampu bertahan hidup selama ribuan tahun berdampingan dengan komodo.

(dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]