Apakah Sudah Tidak Hujan Lagi di Bulan Juni? Ini Kata BMKG

CNN Indonesia
Jumat, 12 Jun 2026 20:00 WIB
Perkembangan musim kemarau terlihat di beberapa wilayah pada Juni, tetapi potensi hujan masih dapat teramati.
Ilustrasi. Perkembangan musim kemarau terlihat di beberapa wilayah pada Juni, tetapi potensi hujan masih dapat teramati.(Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut perkembangan musim kemarau mulai terlihat di sebagian wilayah Indonesia, tetapi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih teramati di sejumlah wilayah pada awal Juni.

BMKG mengatakan dominasi massa udara kering menyebabkan kelembapan udara berkurang dan pembentukan awan menjadi lebih terbatas, terutama pada pagi hingga siang hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi atmosfer yang relatif cerah membuat penyinaran matahari ke permukaan berlangsung lebih optimal, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan suhu udara maksimum di sejumlah wilayah.

Pada periode 4-7 Juni 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0 derajat Celcius tercatat di Aceh, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat.

Pada periode yang sama, hujan dengan intensitas lebat tercatat di Sumatra Utara (82,7 mm/hari), Maluku (64,0 mm/hari), Papua Barat (60,0 mm/hari), Kalimantan Barat (58,0 mm/hari), dan Papua (57,0 mm/hari).

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dinamika atmosfer regional masih berperan dalam mendukung pembentukan awan hujan di beberapa wilayah," kata BMKG dalam laporan Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 9-15 Juni 2026.

Menurut BMKG, analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan bagian selatan, serta Gelombang Kelvin di perairan barat Sumatra Utara hingga Sumatra Barat dan sebagian wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Kemudian, aktivitas gelombang atmosfer tersebut berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan, sehingga mendukung terjadinya hujan signifikan di wilayah-wilayah tersebut.

Dinamika sepekan

Dari sisi iklim global, indikator ENSO masih memperlihatkan kecenderungan fase hangat di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang ditandai oleh indeks Niño 3.4 sebesar +0,69 dan nilai SOI sebesar -20,3.

Kondisi ini mengindikasikan potensi pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Namuhn, hujan masih berpotensi terjadi pada sebagian wilayah Indonesia akibat faktor-faktor atmosfer regional dan lokal yang masih berperan cukup signifikan di sebagian wilayah.

Hingga pekan depan, aktivitas MJO diperkirakan berada pada fase 8 hingga 1 (Western Hemisphere-Africa) sehingga kurang berpengaruh terhadap wilayah Indonesia.

Meski demikian, sinyal konvektif MJO masih berpotensi bertahan di sebagian wilayah Papua, terutama wilayah selatan hingga tengah. Selain MJO, aktivitas Gelombang Kelvin diprediksi melintasi sebagian Sumatra Utara dan Sumatra Selatan, sedangkan Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi aktif di Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, hingga Jawa.

Selain itu, sirkulasi siklonik yang diperkirakan masih bertahan di Samudra Pasifik utara Papua dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias juga berpotensi membentuk daerah konvergensi, konfluensi, serta perlambatan angin yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Papua, Kepulauan Nias, sebagian Sumatra Barat, Riau, dan sekitarnya.

Selain dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala regional, kondisi atmosfer yang cukup labil di sejumlah wilayah juga diperkirakan akan mendukung pertumbuhan awan konvektif secara lebih intensif pada skala lokal di beberapa wilayah.

"Kombinasi berbagai faktor atmosfer, mulai dari MJO, aktivitas gelombang atmosfer, keberadaan sirkulasi siklonik, hingga kondisi labilitas udara yang mendukung konveksi, berpotensi meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas bervariasi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan," kata BMKG.

(lom/lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]