Menkomdigi Ungkap Penyebab Rilis Regulasi AI Tertunda
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyebut aturan terkait kecerdasan buatan (AI) akan dirilis tahun ini. Ia menjelaskan peluncuran aturan ini tertunda karena ada permintaan penyesuaian dari beberapa perusahaan Amerika Serikat (AS).
"Jadi kemarin itu sebetulnya secara draft semua sudah selesai, kemudian ada permintaan dari beberapa perusahaan dari Amerika untuk membahas ulang. Kita lakukan pembahasan ulang kemarin dan sudah kita adopsi masukan-masukan juga agar bagaimana titik tengah antara inovasi dan keterjagaan ini terjadi," kata Meutya di sela acara BRAVO 500 Summit di Ritz Carlton Jakarta, Kamis (11/6).
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ini sudah ada draft baru lagi yang masuk ke Setneg yang kita harapkan bisa ditandatangani dengan segera," tambahnya.
Meutya menjelaskan aturan-aturan tersebut, baik yang mengatur etika AI maupun roadmap akan membahas beberapa poin utama, seperti infrastruktur.
Dalam roadmap, regulasi ini juga akan menyoroti 10 sektor prioritas AI yang searah dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti bidang kesehatan, pendidikan, keuangan, dan ketahanan pangan.
"Jadi seluruh sektor prioritasnya itu dipilihkan memang yang sesuai dengan Asta Cita Bapak Presiden termasuk ketahanan pangan," jelasnya.
Ketika dikonfirmasi apakah aturan ini akan bisa disahkan tahun ini, Meutya mengaku percaya diri karena proses penyusunan aturan telah selesai.
"Mudah-mudahan enggak ada lagi permintaan untuk konsultasi ulang. Tapi insya Allah tahun ini kita amat sangat confident karena pada prinsipnya Perpresnya sudah selesai," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyoroti beberapa poin penting dalam pengembangan ekosistem AI.
"Pertama, Bravo 500 ini kan pilihan top 500 industries yang kita harapkan menjadi tulang punggung dari pertama pembangunan artificial intelligence di Indonesia," katanya.
Kemudian, ia juga menyebut Indonesia adalah negara yang sangat terbuka terhadap inovasi, termasuk teknologi AI. Namun, ada pekerjaan rumah besar yang perlu dihadapi, salah satunya menjaga masyarakat dari dampak negatif teknologi tersebut.
Poin lain yang ia soroti adalah terkait inklusivitas. Menurutnya, semua kelompok masyarakat harus bisa menerima manfaat dari teknologi.
(lom/lom) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

