Cloud Microsoft Dipakai Intai Warga Gaza, Bos Israel Dicopot

CNN Indonesia
Rabu, 20 Mei 2026 12:00 WIB
Cloud Microsoft Dipakai Intai Warga Gaza, Bos Israel Dicopot
Ilustrasi. Laporan investigasi mengungkap Microsoft diduga digunakan untuk memata-matai warga Palestina. Skandal ini berujung pada pencopotan GM Microsoft Israel. (Foto: Drew Angerer/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah laporan investigasi mengungkap infrastruktur cloud Microsoft diduga kuat digunakan untuk memata-matai warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Skandal ini memicu penyelidikan internal yang berujung pada pencopotan General Manager Microsoft di Israel.

Alan Haimovich, yang menjabat sebagai GM Microsoft Israel selama empat tahun, dicopot dari posisinya dan dijadwalkan meninggalkan perusahaan pada akhir bulan ini. Hingga penggantinya ditunjuk, operasional Microsoft Israel akan dijalankan di bawah manajemen Microsoft Prancis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir TRT World pada Rabu (13/5), skandal ini bermula dari laporan investigasi The Guardian dan +972 Magazine, yang mengungkap bahwa badan intelijen Israel menggunakan server Microsoft untuk menjalankan operasi pengawasan massal komunikasi warga Palestina.

Investigasi tersebut mengungkap, militer Israel secara diam-diam menyimpan basis data besar berisi rekaman panggilan telepon warga Palestina di server Microsoft yang berlokasi di Eropa.

Kesepakatan itu difinalisasi pada 2021 dalam sebuah pertemuan di kantor pusat Microsoft di Redmond antara CEO Satya Nadella dan komandan 8200 saat itu, Yossi Sariel.

Setelah 7 Oktober 2023, Unit 8200 secara signifikan memperluas penggunaan infrastruktur cloud komersialnya.

Presiden Microsoft Brad Smith kemudian menyatakan bahwa hasil tinjauan internal perusahaan mengonfirmasi sebagian temuan investigasi The Guardian, termasuk rincian penggunaan server penyimpanan Azure milik kementerian pertahanan Israel yang berlokasi di Belanda, serta aksesnya terhadap layanan AI.

Microsoft menyebut pihaknya sudah menonaktifkan sejumlah layanan penyimpanan cloud dan AI untuk satu unit di dalam kementerian pertahanan Israel.

Skala infrastruktur yang dibangun di atas server Microsoft terbilang masif. Per Juli 2025, lebih dari 11.500 terabyte dan militer Israel, setara dengan sekitar 200 juta jam audio, tersimpan di pusat data Azure di Belanda dan Irlandia.

Sistem yang beroperasi sejak 2022 ini mampu menyimpan dan memproses rekaman sekitar satu juta panggilan per jam yang dilakukan warga Palestina.

Dokumen internal dan sejumlah wawancara menunjukkan bahwa karyawan Microsoft bekerja sama erat dengan kontraktor militer Israel untuk membangun arsitektur keamanan khusus bagi proyek tersebut. Hasilnya adalah lingkungan Azure yang dirancang secara terpisah untuk menampung apa yang diklasifikasikan militer Israel sebagai 'beban kerja sensitif'.

Menurut tiga sumber dari Unit 8200, platform berbasis cloud itu digunakan untuk mempersiapkan serangan udara dan membentuk operasi militer di Gaza dan Tepi Barat. Platform ini juga menjadi penopang sejumlah alat penargetan berbasis AI yang dikembangkan di bawah komando Sariel.

Dua alat penargetan AI kontroversial milik Israel, Gospel dan Lavender, keduanya terhubung dengan Unit 8200, dilaporkan disempurnakan menggunakan data yang diproses lewat infrastruktur tersebut.

Dapat penolakan

Penolakan sempat muncul dari dalam Microsoft, tapi tidak membuahkan hasil. Sejumlah karyawan menyuarakan keberatan etis atas penggunaan Azure untuk pengawasan militer, namun diabaikan.

Keputusan Microsoft menonaktifkan akses Unit 8200 ke sebagian teknologinya merupakan konsesi langsung yang diperoleh kampanye 'No Azure for Apartheid' dari dalam Microsoft, di mana para pekerja teknologi mengorganisir petisi, gangguan operasional, dan aksi langsung yang berujuk pada aksi menduduki kantor eksekutif.

Ancaman hukum juga menjadi pertimbangan. Tim investigasi internal Microsoft mulai bekerja bulan lalu di tengah kekhawatiran bahwa anak perusahaan Israel berpotensi mengekspos perusahaan pada tanggung jawab hukum di Eropa, karena server Azure yang digunakan pemerintah Israel untuk menyimpan data pengawasan berlokasi di kawasan tersebut.

Tinjauan internal Microsoft juga menemukan kegagalan manajemen dan kurangnya transparansi yang merusak kepercayaan antara kantor pusat Microsoft dan cabangnya di Israel.

(dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]