BMKG Jelaskan Fenomena Awan Pelangi di Langit Jonggol Bogor
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab munculnya awan menyerupai pelangi di langit Jonggol, Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (1/5).
Fenomena tersebut pertama kali disadari oleh seorang warga yang sedang melintas di Jalan Jeprah, Jonggol.
"Belum hujan, tapi di sebelah kanan kayak ada pelangi," ujar sang warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah pengendara juga memperlambat laju kendaraan. Sementara sebagian lain memilih menepi. Para pengendara mengarahkan kamera ponsel ke langit untuk menangkap momen langka tersebut. Lalu lintas di Jonggol sempat tersendat kala itu.
Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan fenomena awan menyerupai pelangi itu umum terjadi berkaitan dengan optik atmosfer.
"Fenomena yang terlihat pada video tersebut merupakan peristiwa yang umum terjadi dalam atmosfer dan berkaitan dengan optik atmosfer," ujar Ida dikutip dari detik.
Ida menerangkan warna pelangi muncul karena cahaya matahari berinteraksi dengan butir air di udara. Dia menyebut butir air itu sisa dari hujan.
"Warna pelangi muncul karena cahaya Matahari berinteraksi dengan butir-butir air di udara, baik dari sisa hujan maupun hujan yang sedang terjadi di sisi lain wilayah Sentul seperti pada video tersebut," ucap Ida.
Ida juga menjelaskan tampak ada awan yang disebut towering cumulus menutupi sebagian pelangi. Karena itulah, kata dia, bentuknya menjadi terlihat tidak utuh atau tampak seperti 'awan pelangi'.
"Pada saat yang sama, tampak adanya awan towering cumulus yang dapat menutupi sebagian pelangi, sehingga bentuknya terlihat tidak utuh atau tampak seperti 'awan pelangi'," ujarnya.
Kendati demikian, Ida mengatakan 'awan pelangi' itu bukan tanda akan terjadi bahaya. Ida menyebut 'awan pelangi' itu menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal.
"Fenomena ini bukan tanda langsung akan terjadi badai, melainkan menunjukkan adanya proses pertumbuhan awan konvektif dan kemungkinan hujan lokal di sekitar wilayah tersebut, meskipun titik pengamat masih dalam kondisi cerah atau belum mengalami hujan," ucap Ida.
Lengkapnya baca di sini.
(har) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]