Bukan Cuma Sapu-sapu, Ikan-ikan Invasif Ini Juga Ada di Perairan RI

CNN Indonesia
Sabtu, 25 Apr 2026 12:55 WIB
Jenis ikan invasif di perairan Indonesia bukan cuma sapu-sapu. Menurut sejumlah penelitian ada sejumlah ikan lain yang memiliki sifat invasif.
Ilustrasi. Jenis ikan invasif di perairan Indonesia bukan cuma sapu-sapu. Menurut sejumlah penelitian ada sejumlah ikan lain yang memiliki sifat invasif. (Foto: CNN Indonesia/Adi ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikan sapu-sapu yang dikenal invasif belakangan menjadi sorotan karena populasinya yang sangat banyak di wilayah Jakarta. Bahkan, Pemprov DKI Jakarta sampai harus membuat aksi bersih-bersih membasi ikan invasif ini di Sungai Ciliwung.

Ikan sapu-sapu dikenal luas sebagai 'pembersih' akuarium karena kemampuannya mengonsumsi lumut dan sisa kotoran. Namun, di balik manfaat tersebut, ikan ini justru menjadi ancaman serius jika dilepas ke alam liar seperti sungai dan danau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laporan Nature World News di berbagai wilayah, termasuk di Texas, Amerika Serikat, ratusan ikan sapu-sapu ditemukan hidup liar dan diduga berasal dari pelepasan oleh pemilik akuarium.

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, misalnya di Sungai Ciliwung, di mana kehadiran ikan ini dikaitkan dengan penurunan drastis keanekaragaman ikan lokal.

Ikan sapu-sapu merupakan spesies ikan invasif yang berasal dari Amerika Selatan.

Ikan ini awalnya masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan ikan hias. Namun, banyak yang kemudian dilepas ke perairan umum, baik secara sengaja maupun tidak, hingga akhirnya berkembang menjadi spesies invasif di sungai-sungai Indonesia, termasuk Ciliwung.

Dalam sebuah riset pada 2020 oleh Gema Wahyu Dewantoro dan Ike Rachmatika, ikan sapu-sapu disebut sebagai ikan introduksi invasif. Ikan introduksi merupakan jenis ikan yang tempat hidup alaminya bukan di Indonesia.

Ikan introduksi disebut bersifat invasif ketika memberikan dampak negatif terhadap komunitas di perairan.

Ikan yang bersifat invasif ini umumnya mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi, serta mampu berkembang dan bereproduksi secara cepat.

Karakter lainnya adalah mereka mampu hidup dengan jenis-jenis makanan yang ada di sekitarnya, terkadang tanpa pesaing sehingga menjadi predator teratas.

Namun, ikan sapu-sapu ternyata bukan satu-satunya yang bersifat invasif di perairan Indonesia.

Riset berjudul Jenis Ikan Introduksi dan Invasif Asing di Indonesia ini memberikan daftar beberapa ikan introduksi yang bersifat invasif selain ikan sapu-sapu, seperti ikan guppy atau ikan seribu (Poecillia reticulata).

Ikan ini masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 1920 sebagai ikan hias akuarium yang semula diharapkan dapat membasmi larva nyamuk untuk mengendalikan malaria, namun gagal karena ukurannya di alam terlalu kecil untuk memangsa jentik secara efektif.

Kini, ikan tersebut telah berada di berbagai i Nusantara dan menjadi salah satu jenis paling melimpah di Jawa dan Bali, termasuk di sungai-sungai Jawa Barat di mana ia bersaing dengan ikan lokal paray.

Kemudian, ada juga ikan red devil (Amphilophus labiatus) yang merupakan bagian dari suku Cichlidae yang bersifat agresif.

Ikan ini masuk Indonesia pada akhir 1990 dan telah lama menjadi hama di Waduk Kedungombo dan Waduk Sermo (Kulon Progo), di mana 75 persen hasil tangkapan nelayan didominasi jenis ini. Ikan ini juga dilaporkan telah menyebar ke Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur.

Selain itu, ada juga ikan mujair (Oreochromis mossambicus) yang merupakan salah satu bahan makanan unggulan.

Ikan yang saat ini tersebar luas di hampir seluruh perairan tawar Indonesia ini pertama kali masuk pada 1939.

Mujair yang diintroduksi ke danau-danau di Sulawesi pada tahun 1951 telah menyebabkan kepunahan ikan endemik moncong bebek di Danau Poso dan kepunahan ikan lokal di Danau Lindu.

Meski awalnya bersifat invasif, ikan mujair kini telah menjadi salah ikan yang dibudidayakan dan dipasarkan secara luas serta dianggap sebagai ikan Indonesia.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]