Komdigi Selidiki Dugaan IGRS Beri Spoiler Gim yang Belum Terbit
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) buka suara soal dugaan Indonesian Game Rating System (IGRS) memberikan spoiler sejumlah gim yang belum terbit.
"Untuk menghindari asumsi-asumsi yang beredar di media sosial atau di teman-teman, proses sekarang dalam proses investigasi secara keseluruhan, baik dari sisi policy, sistem dan proses, ataupun tools dan teknologinya, sampai ke organisasi dan SDM-nya," ujar Sonny Hendra Sudaryana, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi di Jakarta Selatan, Jumat (17/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kita mau bukan sepotong-sepotong hasilnya. Makanya investigasi ini menyeluruh dan akan kita laporkan hasilnya. biar enggak ada asumsi-asumsi lagi," tambahnya.
Ia menjelaskan semua pihak akan dilibatkan dalam investigasi ini, termasuk publisher gim sebagai pelaku industri.
"Jadi kita akan update hasil dari investasi pada kesempatan yang paling pertama setelah kita dapatkan hasilnya. Biar enggak ada asumsi lagi di lapangan," tegasnya.
Sebelumnya, IGRS diduga memiliki celah yang berpotensi membuka data gim yang belum dirilis.
Isu ini berkembang dari temuan komunitas online hingga laporan media internasional yang menyebut paparan materi sensitif.
Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah dugaan bocoran materi dari game James Bond terbaru, 007: First Light, yang dikembangkan oleh IO Interactive.
Dikutip dari Video Games Chronicle, footage berdurasi lebih dari satu jam mulai beredar di internet, bahkan diduga mencakup bagian penting dari alur cerita, termasuk kemungkinan bagian akhir.
Rekaman yang bocor tersebut juga mencakup cuplikan gameplay yang belum dirilis dari game Echoes of Aincrad milik Bandai Namco, termasuk adegan cut-scene yang tampaknya menampilkan momen-momen penting dalam alur cerita.
Lebih lanjut, Komdigi memutuskan untuk menunda implementasi aturan IGRS sebagai respons terhadap rentetan insiden terkait aturan ini.
"Saat ini kami terus menginvestigasi dan mengevaluasi IGRS secara menyeluruh baik dari sisi sistemnya, proses maupun pembuatan atau tata kelola dan hasilnya," tutur Sonny.
"Sambil menunggu semua proses investigasi dan evaluasi selesai, kami memutuskan untuk menunda sementara proses rating IGRS secara keseluruhan," tambahnya.
Sonny menegaskan penundaan ini bersifat sementara hingga seluruh proses investigasi selesai.
Langkah penundaan tersebut diambil untuk memastikan bahwa ke depannya sistem IGRS bisa berjalan jauh lebih kuat, lebih kredibel, serta dapat dipercaya baik oleh para pelaku industri.
Insiden IGRS pertama kali terjadi ketika Steam menampilkan rating sejumlah gim yang dinilai tidak wajar.
Kala itu, beberapa gim yang bermuatan kekerasan mendapatkan rating 3+, sementara sejumlah gim anak-anak malah mendapatkan rating 18+.
(lom/dmi) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
