Batu Berusia 250 Juta Tahun Buktikan Nenek Moyang Mamalia Bertelur

CNN Indonesia
Jumat, 17 Apr 2026 18:30 WIB
Penelitian baru mengungkap fosil embrio Lystrosaurus berusia 250 juta tahun, membuktikan nenek moyang mamalia bertelur.
Penelitian baru mengungkap fosil embrio Lystrosaurus berusia 250 juta tahun, membuktikan nenek moyang mamalia bertelur. (Foto: Jurnal PLOS/Julien Benoit)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah batu berusia 250 juta tahun menjadi bukti kuat bahwa nenek moyang mamalia ternyata bertelur. Simak penelitiannya.

Penelitian yang terbit di jurnal PLOS One mengungkap fosil yang ditemukan di Afrika Selatan itu merupakan embrio Lystrosaurus, nenek moyang mamalia yang terkenal karena berhasil selamat dari 'kepunahan massal', peristiwa yang terjadi sekitar 252 juta tahun yang lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para peneliti memindai fosil tersebut dengan menggunakan tomografi komputer beresolusi tinggi dan sinchrotron yang menghasilkan sinar-X yang lebih terang daripada Matahari. Tim kemudian menemukan bahwa rahang embrio Lystrosaurus belum sepenuhnya menyatu.

"Ciri ini hanya ditemukan pada embrio burung dan kura-kura modern. Hal ini membuktikan bahwa embrio Lystrosaurus berada di dalam telur saat ia mati," kata penulis utama studi tersebut, Julien Benoit, seorang profesor di Institut Studi Evolusi Universitas Witwatersrand di Afrika Selatan, mengutip CNN, Rabu (15/4).

"Ini adalah pertama kalinya kita dapat mengatakan, dengan keyakinan penuh, bahwa nenek moyang mamalia seperti Lystrosaurus bertelur, sehingga hal ini menjadi tonggak sejarah yang sesungguhnya dalam bidang ini," tambahnya.

Benoit mengatakan bahwa telur-telur ini memiliki cangkang luar yang lunak dan bertekstur seperti kulit karena telur bercangkang keras baru berevolusi setidaknya 50 juta tahun kemudian.

Fosil tersebut juga memberikan penjelasan potensial mengenai mengapa Lystrosaurus berhasil selamat dari 'kepunahan massal', yang mengakhiri periode Permian, di mana 90 persen makhluk hidup di Bumi punah seiring dengan meningkatnya suhu dan kekeringan di planet ini, tambahnya.

"Lystrosaurus hidup di lingkungan yang sangat kering dan mirip gurun," ujar Benoit.

Ia menambahkan bahwa hewan itu kemungkinan mencari makan di dasar sungai yang kering dan mencari tanah yang lunak dan berlumpur untuk menggali lubang guna bertahan hidup selama musim kemarau yang berkepanjangan.

Akibatnya, telur Lystrosaurus yang relatif besar dibandingkan dengan ukurannya memberikan keunggulan penting bagi kelangsungan hidupnya.

"Telur Lystrosaurus kehilangan lebih sedikit air melalui cangkangnya yang berkulit tebal dibandingkan telur spesies lain pada masa itu," jelas Benoit.

Ukuran telur yang besar juga menunjukkan bahwa bayi Lystrosaurus sudah cukup berkembang saat menetas, yang merupakan keuntungan lain.

Dia menambahkan bahwa temuan tersebut memiliki implikasi penting bagi pemahaman mengenai asal-usul proses laktasi pada mamalia. Temuan tersebut memungkinkan para peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan untuk memproduksi susu guna memberi makan anak kemungkinan besar berevolusi antara periode Trias awal dan akhir (252-201 juta tahun yang lalu), setelah peristiwa kepunahan massal.

"Anak-anak Lystrosaurus sudah cukup besar untuk mencari makan sendiri dan melarikan diri dari predator, serta akan mencapai kedewasaan lebih cepat sehingga mereka bisa bereproduksi lebih awal," ungkap Benoit.

Selain itu, penelitian tersebut memberikan dukungan kuat bagi hipotesis bahwa proses menyusui pada awalnya berevolusi untuk menjaga kelembapan dan melindungi telur-telur berkulit tebal milik nenek moyang mamalia, bukan untuk memberi makan anak-anaknya.

Selanjutnya, ia berencana untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai evolusi laktasi dan viviparitas, perkembangan embrio di dalam tubuh induk.

"Inilah beberapa ciri paling penting yang menjadi ciri khas keluarga kami, dan kami masih belum tahu persis kapan dan bagaimana ciri-ciri tersebut berevolusi," kata Benoit.

"Mengungkap hal ini akan sangat membantu dalam memahami kisah kesuksesan mamalia," lanjutnya.

Steve Brusatte, seorang profesor paleontologi dan evolusi di Universitas Edinburgh di Skotlandia yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan kepada bahwa embrio Lystrosaurus adalah 'fosil yang menarik'.

"Ini adalah bukti kuat bahwa beberapa nenek moyang mamalia terdekat kita masih bertelur dan bereproduksi seperti reptil, serta belum melahirkan anak yang sudah hidup dan memberi makan bayi mereka dengan susu," kata Brusatte, penulis buku "The Rise and Reign of the Mammals", dalam sebuah email.

"Hal-hal itu akan muncul kemudian, dan berperan penting dalam kemakmuran mamalia saat ini," lanjutnya.

(wpj/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]