'Godzilla' El Nino Diprediksi Muncul Dekat RI, Ini Respons BMKG

CNN Indonesia
Rabu, 25 Mar 2026 13:21 WIB
BMKG menanggapi prediksi 'Godzilla' El Niño, menyebut istilah tersebut hiperbolis. Peluang El Niño lemah hingga moderat diprediksi 50-60% setelah semester 2.
Ilustrasi. BMKG menanggapi prediksi 'Godzilla' El Niño, menyebut istilah tersebut hiperbolis. Peluang El Niño lemah hingga moderat diprediksi 50-60% setelah semester 2. (Foto: Tangkapan layar web nasa.gov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan tanggapannya terkait prediksi El Niño kuat yang disebut sebagai Godzilla El Niño .

"Istilah El Niño 'Godzilla' tidak ada dalam khasanah klimatologi yang resmi di dunia dan cenderung hiperbolis. Kategori El El Niño hanya El Niño lemah, moderat dan kuat. Saat ini prediksi resmi BMKG adalah peluang 50-60 persen El Niño lemah hingga moderat setelah semester 2," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (25/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, Fenomena iklim 'Godzilla' El Niño diprediksi bakal membuat cuaca di Indonesia dan sejumlah negara di dunia semakin panas dalam beberapa bulan ke depan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi potensi terjadinya 'Godzilla' El Nino di Indonesia disertai dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada beberapa bulan mendatang. Kombinasi fenomena ini membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering.

"'Godzilla' El Niño + IOD Positif, kedengarannya keren, tapi dampaknya enggak main-main. Kemarau bisa jadi lebih panjang, lebih kering, dan hujan makin jarang turun di Indonesia. Awan pun lebih banyak 'nongkrong' di Pasifik sedangkan kita kebagian panasnya aja," tulis BRIN di Instagramnya, Jumat (20/3).

El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena ini berdampak pada musim kemarau di Indonesia yang lebih panjang dan kering.

Sementara, pemberian nama 'Godzilla' merujuk pada El Niño variasi kuat. Istilah Godzilla yang disematkan pada fenomena El Niño bukan pertama kali muncul.

Istilah tersebut pertama kali dilontarkan oleh ahli klimatologi NASA Bill Patzert pada 2015. Fenomena ini terjadi akibat suhu sangat tinggi di bagian timur Samudra Pasifik dan memicu serangkaian bencana alam di sejumlah penjuru dunia.

"Ini jelas berpotensi menjadi 'Godzilla El Niño,'" katanya saat itu.

Dikutip dari ABC, "Godzilla" El Niño bukanlah istilah teknis atau ilmiah, tetapi merupakan cara untuk menggambarkan fenomena El Niño saat itu, karena fenomena tersebut kemungkinan besar akan menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950.

Musim kemarau panjang

BMKG sebelumnya telah mengeluarkan prediksi soal nilai indeks ENSO yang menjadi penentu kondisi La Nina dan El Niño.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.

Namun, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.

"Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun," kata Faisal dalam keterangannya, Rabu (4/3).

Terkait kondisi kemarau, BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen) dan Normal di 245 ZOM (35,1 persen). Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

"Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya," kata Faisal.

(lom/dmi) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]