Ahli Peringatkan Risiko Keruntuhan Ekonomi Global Akibat Krisis Iklim
Para ahli memperingatkan, model ekonomi yang keliru berisiko memicu krisis keuangan global seiring dampak krisis iklim yang kian parah.
Mereka menilai, pemulihan dari krisis tersebut akan jauh lebih sulit dibandingkan krisis keuangan 2008, karena kerusakan lingkungan tidak bisa 'diselamatkan' dengan cara yang sama seperti penyelamatan bank.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring dunia melaju menuju pemanasan global 2 derajat Celsius, risiko bencana cuaca ekstrem dan titik kritis iklim meningkat dengan cepat. Namun, para peneliti mengatakan bahwa model ekonomi yang digunakan oleh pemerintah dan lembaga keuangan saat ini sama sekali tidak memperhitungkan guncangan semacam itu, melainkan memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi yang stabil hanya akan melambat akibat kenaikan suhu rata-rata yang bertahap.
Hal ini karena model-model ekonomi tersebut mengasumsikan bahwa masa depan akan berperilaku seperti masa lalu, meskipun pembakaran bahan bakar fosil mendorong sistem iklim ke wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Titik kritis, seperti keruntuhan arus Atlantik yang kritis atau lapisan es Greenland, akan memiliki konsekuensi global bagi masyarakat. Beberapa di antaranya diyakini telah mencapai, atau sangat dekat dengan, titik kritisnya, namun waktu terjadinya sulit diprediksi. Bencana cuaca ekstrem yang terjadi bersamaan dapat menghancurkan ekonomi nasional," kata para peneliti dari Universitas Exeter dan lembaga pemikir keuangan Carbon Tracker Initiative, mengutip The Guardian, Kamis (5/2).
Laporan mereka menyimpulkan bahwa pemerintah, regulator, dan manajer keuangan harus memberikan perhatian terhadap risiko-risiko yang memiliki dampak besar tapi dengan probabilitas rendah ini.
Hal ini karena menghindari hasil yang tidak dapat diubah, dengan mengurangi emisi karbon jauh lebih murah daripada mencoba mengatasi konsekuensinya.
"Kami tidak sedang menghadapi penyesuaian ekonomi yang dapat dikelola," kata Jesse Abrams dari Universitas Exeter.
Para ilmuwan iklim yang disurvei menyatakan dengan tegas bahwa model ekonomi saat ini belum mampu menangkap aspek paling krusial, yakni kegagalan berantai serta guncangan yang saling memperkuat yang menjadi ciri risiko iklim di dunia yang semakin hangat, dan kondisi tersebut berpotensi mengancam fondasi pertumbuhan ekonomi itu sendiri.
"Bagi lembaga keuangan dan pembuat kebijakan, ini adalah pemahaman yang keliru tentang risiko yang kita hadapi," katanya.
Ia menggambarkan situasinya seperti krisis keuangan 2008, namun dengan perbedaan besar karena kali ini pemulihan tidak dapat dilakukan seperti sebelumnya.
Menurutnya, ketika ekosistem atau iklim mengalami keruntuhan, manusia tidak dapat menyelamatkan Bumi sebagaimana bank-bank diselamatkan saat krisis.
"Akibat dari nasihat ekonomi yang keliru adalah rasa aman yang meluas di kalangan investor dan pembuat kebijakan. Ada kecenderungan di beberapa departemen pemerintah untuk meremehkan dampak perubahan iklim terhadap ekonomi agar terhindar dari keputusan sulit saat ini. Ini adalah masalah besar, konsekuensi penundaan adalah bencana," ujar Mark Campanale, CEO Carbon Tracker
Hetal Patel, dari Phoenix Group yang mengelola £300 miliar (sekitar Rp6.870 triliun) investasi jangka panjang untuk pelanggannya, menyatakan bahwa mengabaikan risiko fisik tidak hanya berdampak buruk pada keputusan investasi, tetapi juga meremehkan konsekuensi nyata yang pada akhirnya akan memengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Pada tahun 2025, aktuaris memprediksi bahwa ekonomi global dapat mengalami kerugian sebesar 50 persen dalam PDB antara tahun 2070 dan 2090 akibat guncangan iklim yang parah. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Laporan baru ini mengutip keahlian 68 ilmuwan iklim dari lembaga penelitian dan lembaga pemerintah di Inggris, Amerika Serikat, China, dan sembilan negara lainnya.
Temuan utama adalah bahwa, meskipun model ekonomi tradisional mengaitkan kerusakan iklim dengan perubahan suhu rata-rata, masyarakat dan pasar paling terdampak oleh fenomena ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan kekeringan.
Temuan lain menunjukkan bahwa PDB dapat menyembunyikan biaya sebenarnya dari kerusakan iklim dengan tidak memperhitungkan kematian, penyakit, gangguan sosial, dan ekosistem yang rusak.
Para peneliti menambahkan bahwa PDB sebenarnya dapat meningkat setelah bencana akibat pengeluaran untuk pemulihan.
Mereka merekomendasikan untuk lebih menekankan pada ekstrem, bukan hanya perkiraan rata-rata, dan pada kerentanan sistem keuangan secara keseluruhan, daripada menunggu model risiko yang sempurna.
Campanale menambahkan bahwa investor juga harus mempercepat transisi dari bahan bakar fosil sebagai kewajiban fidusia untuk menghindari kerugian besar di masa depan.
Model ekonomi saat ini dapat memberikan perkiraan kerugian yang tampak presisi, tetapi para ilmuwan mengatakan perkiraan tersebut terlalu optimis.
"Beberapa orang mengatakan kita akan mengalami penurunan PDB sebesar 10 persen pada suhu global antara 3 derajat Celcius dan 4 derajat Celsius, tetapi para ilmuwan iklim fisik mengatakan ekonomi dan masyarakat akan berhenti berfungsi seperti yang kita kenal. Itu adalah ketidakcocokan yang besar," ungkap Abrams.
Laurie Laybourn dari Strategic Climate Risks Initiative menyatakan bahwa dunia saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma dalam hal kecepatan, skala, dan tingkat keparahan risiko yang dipicu oleh krisis iklim dan alam, sementara banyak regulasi serta tindakan pemerintah masih belum sejalan dengan realitas yang ada.
[Gambas:Video CNN]

