Sesar Cisadane 'Pembelah Gunung' di Jabodetabek, Warga Perlu Waspada

CNN Indonesia
Selasa, 10 Feb 2026 14:15 WIB
Badan Geologi ESDM ungkap jejak Sesar Cisadane di Jabodetabek. Penelitian menunjukkan potensi aktif sesar ini, perlu kewaspadaan bagi warga sekitar.
Ilustrasi. Badan Geologi ESDM ungkap jejak Sesar Cisadane di Jabodetabek. Penelitian menunjukkan potensi aktif sesar ini, perlu kewaspadaan bagi warga sekitar. (Foto: iStockphoto/bartvdd)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama sejumlah pihak mengungkap jejak Sesar Cisadane yang berada di wilayah Jabodetabek. Apa dampaknya?

Sesar Cisadane merupakan salah satu sesar yang mengepung Jakarta bersama Sesar Baribis dan Sesar Citarik. Sesar ini menyimpan jejak tektonik yang pernah membelah gunung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk meneliti lebih lanjut, ekspedisi lapangan dilakukan oleh Badan Geologi, Badan Informasi Geospasial, BPBD Kabupaten Bogor, dan PT Oseanland ke Gunung Nyungcung yang terletak di daerah Rumpin, Kabupaten Bogor. Gunung ini berjarak sekitar 20 kilometer atau 1 jam perjalanan dari Jakarta.

"Bukit dengan ketinggian 240 meter di atas permukaan laut ini merekam jejak Sesar Cisadane, nama yang mungkin masih asing di telinga warga Jabodetabek," tulis sebuah video yang diunggah Badan Geologi di Instagram, Jumat (6/2).

Para peneliti memaparkan hasil penyelidikan dengan berbagai metode, mulai dari data gaya berat, data seismik untuk mengamati bawah permukaan, metode geologi untuk pengamatan di permukaan, hingga metode langitan dengan menggunakan drone yang dibekali sensor LiDAR.

Kombinasi data dari VTOL LiDAR, makro area luas, dan SLAM LiDAR micro detail lokal, memungkinkan interpretasi geologi yang lebih komprehensif.

"Dari berbagai metode tersebut menunjukkan adanya sesar mendatar berarah relatif barat laut tenggara. Karena posisinya mengikuti aliran Sungai Cisadane, maka patahan ini diberi nama Sesar Cisadane," terang narator dalam video tersebut.

Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu disebut sebagai acuan awal dalam mencari bukti keberadaan Sesar Cisadane.

Wilayah di sekitar Gunung Nyungcung tersusun dari beberapa jenis batuan, terutama batu pasir gampingan. Jenis batuan ini menjadi indikasi kalau Gunung Nyungcung merupakan dasar laut yang terangkat.

Batuan yang terangkat ini dan kemunculan Gunung Nyungcung juga menjadi indikasi adanya sesar naik, pola Sesar Baribis berarah barat timur.

Pola ini sejajar dengan Gunung Panjang yang ada di sisi timur Gunung Nyungcung. Kedua gunung ini disebut sama-sama tersusun dari batu pasir gampingan yang diterobos batuan beku.

"Artinya, di masa lalu, kedua gunung ini saling terhubung, hingga suatu masa keduanya terpisahkan oleh sungai Cisadane. Terpisahnya kedua gunung ini menunjukkan adanya faktor tektonik, yaitu sesar Cisadane," jelasnya.

"Sesar ini diperkirakan memanjang dari Bogor hingga pesisir Tangerang, dan diduga potensi aktif, seperti terekam di penampang seismik," tambahnya.

Ekspedisi dilanjutkan ke Gunung Panjang. Di sini para peneliti juga menemukan bukti wilayah tersebut dulunya laut dangkal yang terangkat oleh aktivitas tektonik.

Hal tersebut di antaranya diketahui dari temuan beberapa sampel batuan dan temuan banyaknya fosil molusca.

"Ini menjadi bukti kalau jutaan tahun yang lalu, daerah ini merupakan laut dangkal. Dasar laut ini kemudian terangkat oleh faktor tektonik yaitu pola Sesar Baribis atau yang belakangan dikenal West Java Back Arch Trust," ujar narator dalam video lanjutan.

Berdasarkan pengamatan dari berbagai metode, Gunung Panjang dahulu diperkirakan saling terhubung dengan Gunung Nyungcung di Rumpin yang ada di sisi barat.

Namun, pada suatu masa gunung ini terpisah oleh sungai Cisadane. Terpisahnya kedua gunung ini disebabkan oleh sebuah sesar mendatar atau geser berarah barat laut Tenggara yang kemudian disebut sesar Cisadane.

"Jejak sesar tersebut terekam di puncak gunung panjang. Sebuah rekahan memanjang berarah barat laut Tenggara searah dengan pola sesar Cisadane. Kalau ditarik ke arah barat laut dari gunung panjang, rekahan memanjang ini tepat mengarah ke wilayah Tangerang Selatan dan diperkirakan memotong batuan rumur kuarter atau batuan rumur muda," katanya.

Pada celah rekahan tersebut, muncul mata air panas yang kemudian dimanfaatkan untuk pemandian oleh masyarakat.

Fenomena bentang alam kubah memanjang di atas sesar di Gunung Panjang ini menjadi bukti nyata keberadaan pola Sesar Cisadane.

Menurut pengamatan para peneliti sejauh ini, Sesar Cisadane statusnya berpotensi aktif.

Apakah harus waspada?

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan Sesar Cisadane merupakan sesar tua, yang terbentuk sejak kurang lebih 5 juta tahun lalu.

"Sesar Cisadane memang ada, dengan arah umum Barat Laut-Tenggara searah Sungai Cisadane," kata Lana, melansir CNBC, Sabtu (7/2).

"Dengan adanya retakan memanjang di Gunung Panjang di dekat Sungai Cisadane (sebelah timur Sungai Cisadane) dan arah retakan tersebut sama dengan arah Sesar Cisadane (Barat Laut-Tenggara) menjadi bukti lain adanya Sesar Cisadane," lanjut dia.

Menurut Lana sesar tersebut belum tentu aktif. Namun, dia mengingatkan perlunya kewaspadaan bagi warga di sekitar wilayah yang berada di lintasan sesar.

"Dengan adanya deretan rawa alami (sag pond dalam istilah tektonik geomorfologi) searah dengan retakan di Gunung Panjang, dan retakan memanjang tersebut memotong batuan Kuarter (kurang lebih 2 juta tahun lalu), perlu diwaspadai keberadaan sesar tersebut," kata Lana.

Namun demikian, menurutnya masyarakat tidak perlu panik. Warga diminta tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat.

Selain itu, warga juga diminta untuk tidak terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

"Bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi," kata Lana.

[Gambas:Instagram]

(lom/dmi)


[Gambas:Video CNN]