Sungai di Padang Mengering Usai Bencana, Ini Kata Pakar

CNN Indonesia
Kamis, 05 Feb 2026 13:30 WIB
Sungai Batang Kuranji di Kota Padang mengering di sejumlah segmen usai banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025. Apa kata pakar?
Sungai Batang Kuranji di Kota Padang mengering di sejumlah segmen usai banjir bandang dan longsor pada akhir November 2025. (Foto: ANTARA/HO-Humas Universitas Andalas)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sungai Batang Kuranji di Kota Padang, Sumatra Barat, mengalami pendangkalan ekstrem bahkan mengering di sejumlah segmen usai banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.Apa penyebabnya?

Pakar sekaligus dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND) Dian Fiantis menjelaskan hujan dengan intensitas sangat tinggi membuat tanah di kawasan hulu Batang Kuranji mengalami kejenuhan total. Akibatnya, pori-pori tanah yang berfungsi menyimpan air tidak lagi bekerja optimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini sebagai respons alami daerah aliran sungai (DAS), terhadap hujan ekstrem yang diikuti melemahnya cadangan air tanah.

"Air berubah menjadi limpasan permukaan dan memicu banjir bandang," ujar Dian, melansir Antara Rabu (4/2).

Berdasarkan data Global Precipitation Measurement Integrated Multi-Satellite Retrievals for GPM (GPM IMERG), curah hujan di hulu Batang Kuranji pada 19-25 November 2025 tercatat melampaui 500 milimeter, disusul hujan sekitar 190 milimeter dalam dua hari berikutnya.

Hujan ekstrem tersebut membawa sedimen halus hingga kasar dari kawasan hulu ke alur sungai. Material itu kemudian mengendap di bagian tengah hingga hilir sungai, menyebabkan pendangkalan dasar sungai hingga satu sampai dua meter. Namun, setelah hujan berhenti, sungai justru kehilangan pasokan air dari bawah permukaan.

Menurut Dian, persoalan utama terletak pada menurunnya fungsi tanah dan batuan di kawasan hulu sebagai "spons alam". Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kebun, ladang, jalan, dan permukiman membuat air hujan lebih cepat mengalir di permukaan tanpa tersimpan sebagai cadangan air tanah.

"Kondisi ini melemahkan baseflow atau aliran dasar sungai, padahal baseflow sangat penting untuk menjaga sungai tetap mengalir saat hujan berhenti," ujarnya.

Di beberapa segmen Batang Kuranji, dasar sungai yang tersusun dari material vulkanik berpori tinggi juga memperparah kondisi. Saat muka air tanah turun, air sungai justru meresap ke dalam tanah. Fenomena ini dikenal sebagai losing stream, yakni sungai yang kehilangan air ke akuifer.

Selain itu, data curah hujan pada periode 12-26 Januari 2026 menunjukkan hujan harian di hulu Batang Kuranji relatif rendah, dengan rata-rata hanya 7,3 milimeter per hari.

Intensitas tersebut dinilai belum cukup untuk mengisi kembali cadangan air tanah yang telah terkuras akibat hujan ekstrem sebelumnya.

"Kondisi Batang Kuranji saat ini merupakan pesan ekologis dari kawasan hulu. Solusi jangka panjang tidak berada di hilir sungai, melainkan pada pemulihan fungsi DAS," tutup Dian.

(wpj/dmi)


[Gambas:Video CNN]