Dibeli AS, Pengguna TikTok 'Kabur' ke Aplikasi Buatan Palestina Ini
Pengguna TikTok ramai-ramai mulai beralih ke media sosial lain, tak lama platform tersebut resmi diakuisisi oleh Amerika Serikat. Salah satu yang ketiban untung dari larinya pengguna TikTok adalah UpScrolled, aplikasi yang didirikan oleh Issam Hijazi, pengusaha asal Palestina-Yordania-Australia.
Popularita UpScrolled tiba-tiba melonjak di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Pasalnya, banyak pengguna mencari alternatif untuk TikTok, yang secara resmi diambil alih oleh investor dan perusahaan yang didukung AS. Meski begitu, operasi global TikTok tetap akan dikelola oleh pemiliknya yang berbasis di China, ByteDance.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
TikTok sebelumnya resmi dibeli oleh konsorsium yang di antaranya terdiri dari Oracle, Silver Lake, dan MGX. Larry Ellison, pemilik Oracle, merupakan
merupakan pendukung setia Israel dan teman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Melihat latar belakang tersebut, pengguna TikTok mengkhawatirkan sensor terhadap unggahan pro-Palestina di aplikasi populer tersebut.
Gelagat itu mulai terlihat pada Rabu (28/1), ketika TikTok secara permanen memblokir jurnalis pemenang Emmy Award dan kontributor Al Jazeera dari Gaza, Bisan Owda, yang memicu kemarahan dan seruan boikot dari para pendukungnya. Aplikasi tersebut juga dituduh melakukan sensor konten terkait kekerasan Agen Imigrasi (ICE) di AS.
UpScrolled, yang didirikan hanya setahun yang lalu, secara mengejutkan naik ke posisi teratas unduhan aplikasi di AS pekan lalu, menduduki peringkat pertama dalam kategori "jaringan sosial" aplikasi gratis di Apple App Store pada Rabu. Aplikasi ini juga termasuk di antara aplikasi teratas yang diunduh oleh pengguna Apple di Inggris, Kanada, dan Australia.
Aplikasi ini terus mendapatkan ribuan unduhan baru seiring dengan banyaknya pengguna TikTok yang kecewa beralih ke platform ini, tertarik dengan janji 'teknologi transparan' yang ditawarkannya. Lonjakan pengguna baru ini sempat membuat server platform tersebut down pada akhir pekan, menurut laporan UpScrolled.
Aljazeera pada Kamis (29/1), melaporkan bahwa perkiraan dari firma intelijen pemasaran Sensor Tower menunjukkan bahwa UpScrolled telah diunduh sekitar 400.000 kali di AS dan 700.000 kali secara global sejak diluncurkan pada Juni 2025.
Aplikasi ini mengalami lonjakan unduhan di AS mulai 22 Januari, pada hari yang sama TikTok menandatangani kesepakatan untuk membuat versi AS yang dikendalikan oleh AS dari aplikasinya.
Sensor Tower memperkirakan bahwa, hingga Selasa, 85 persen unduhan UpScrolled di AS terjadi antara 21 dan 27 Januari.
UpScrolled juga menduduki peringkat pertama dalam kategori 'jaringan sosial' di Apple App Store AS, mengalahkan Threads milik Meta, WhatsApp, dan TikTok. Aplikasi ini juga menjadi aplikasi sosial gratis keenam di Google Play untuk pengguna Android, di mana TikTok (dan TikTok Lite) mendominasi.
Aplikasi ini juga mengalami jumlah unduhan yang tinggi di Kanada, Inggris, dan Australia.
"Beban server kami sangat tinggi. Sangat mengasyikkan!" tulis Hijazi di platform tersebut pada Minggu, setelah situs tersebut melaporkan bahwa lonjakan jumlah pengguna baru menyebabkan servernya down.
"Maaf atas kesalahan dan gangguan, kami sedang meningkatkan kapasitas untuk menangani beban. Kami memperkirakan situasi akan menjadi lebih stabil dalam 12-24 jam ke depan," tulis Hijazi.
Sensor di TikTok
Sejak kesepakatan TikTok di AS mulai berlaku pekan lalu, tagar #TikTokCensorship menjadi tren di platform media sosial seperti X dan Instagram di AS.
Pengguna menuduh TikTok menyensor video yang mendukung Palestina. Larangan terhadap Bisan Owda seolah-olah memperkuat klaim mereka.
Banyak juga yang menuduh TikTok menekan konten yang kritis terhadap ICE, di tengah kemarahan atas tindakan keras mematikan ICE terhadap imigran dan warga AS.
Gubernur California Gavin Newsom mengatakan dalam postingannya di X bahwa ia akan menyelidiki TikTok setelah pengguna mengeluh bahwa konten mereka tentang Jeffrey Epstein, mantan narapidana kasus pelecehan seksual anak yang diduga memiliki hubungan dengan sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Presiden Trump, ditandai sebagai konten yang melanggar aturan.
Terpisah, pengguna TikTok telah mengeluhkan gangguan video di aplikasi tersebut sejak kesepakatan bisnis pekan lalu. Para kreator mengatakan video mereka tidak mendapatkan tayangan sama sekali dan mengalami proses unggah yang lambat.
Dalam pernyataan pada Senin, TikTok mengatakan gangguan tersebut disebabkan oleh "masalah infrastruktur besar yang dipicu oleh pemadaman listrik" di salah satu situs pusat data mitra di AS.
(dmi/dmi)[Gambas:Video CNN]

