Potensi Guncang Bandung Raya, Sesar Cimandiri Disorot
Sesar Cimandiri kembali mencuat menyita perhatian setelah dinilai berpotensi memicu gempa di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat. Keberadaannya melengkapi ancaman seismik selain Sesar Lembang yang lebih dulu dikenal aktif di kawasan tersebut.
Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Putri Natari Ratna, menjelaskan bahwa Sesar Cimandiri membentang sepanjang sekitar 100 kilometer, dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang.
Hal ini diungkapkan dalam penelitian berjudul "Geological and geomorphological insights into the Cimandiri Fault system: Fieldwork and preliminary findings in West Java, Indonesia".
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya penelitian mengenai Sesar Cimandiri sebenarnya telah banyak dilakukan. Namun, hasilnya masih belum sepenuhnya konklusif.
"BRIN melakukan penelitian yang lebih komprehensif untuk memahami karakteristik dan pergerakan Sesar Cimandiri," ungkap Putri mengutip CNBC, Senin (26/1).
Dalam penelitian ini, BRIN menerapkan pendekatan multidisipliner yang mengombinasikan geologi, geofisika, dan geodesi. Pendekatan geologi dilakukan melalui pengamatan lapangan untuk mengidentifikasi bukti aktivitas sesar, seperti pergeseran lapisan batuan dan keberadaan cermin sesar yang menandakan pergerakan kerak bumi.
Sementara itu, pendekatan geodesi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS) guna mengukur besar, laju, dan arah deformasi di sekitar Sesar Cimandiri.
Tim peneliti melakukan GPS Campaign di 24 titik dengan durasi pengambilan data selama 36 jam setiap tahun. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama lima tahun agar data yang diperoleh dapat dianalisis secara komprehensif.
Pendekatan geofisika juga digunakan untuk menelusuri sejarah kegempaan di kawasan tersebut. Berdasarkan catatan, wilayah Cimandiri pernah mengalami gempa bermagnitudo di atas 5 pada tahun 1982 dan 2000, yang menunjukkan aktivitas tektonik signifikan.
Bahkan, Sesar Cimandiri tercatat pernah memicu gempa besar yang mengguncang Sukabumi, Cibeber, Cianjur, hingga Rajamandala di Bandung Barat, menyebabkan kerusakan parah pada permukiman dan infrastruktur, termasuk jalur kereta api peninggalan Belanda.
Untuk mendukung pemetaan yang lebih akurat, BRIN juga memanfaatkan teknologi canggih seperti LiDAR, drone survei, dan SLAM LiDAR.
"SLAM LiDAR bekerja seperti LiDAR konvensional, tetapi menggunakan laser 3D portabel sehingga dapat memetakan daerah singkapan secara detail dalam bentuk model tiga dimensi," jelas Putri.
Ia juga menegaskan, penelitian Sesar Cimandiri memiliki peran strategis dalam upaya mitigasi bencana di Jawa Barat. Sebagai sesar aktif, Cimandiri berpotensi memicu gempa bumi, bahkan tsunami lokal apabila jalurnya menerus ke laut dan memicu longsoran bawah laut.
"Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mendukung perencanaan infrastruktur, sekaligus menjadi dasar sosialisasi kepada masyarakat tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan saat terjadi gempa," tambah Putri.
Selain itu, temuan riset ini juga dapat menjadi dasar edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi gempa serta langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan.
Penelitian Sesar Cimandiri melibatkan kolaborasi lintas lembaga dan negara. Di dalam negeri, BRIN bekerja sama dengan ITB, BIG, BMKG, Oceanland Indonesia Group, BPBD, dan Dompet Dhuafa. Sementara mitra internasional berasal dari The University of Edinburgh dan British Geological Survey (BGS).
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas riset kebencanaan di Indonesia sekaligus mendukung penyusunan kebijakan berbasis data ilmiah untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap risiko geologi.
(wpj/mik)[Gambas:Video CNN]

