Badai Matahari Terjang Bumi, Apa Dampaknya Buat Indonesia?

CNN Indonesia
Rabu, 21 Jan 2026 09:45 WIB
Badai Matahari terjadi pada 20-21 Januari 2026, dampaknya terbatas di Indonesia. BMKG memastikan tidak ada risiko fatal bagi kesehatan dan infrastruktur.
Aktivitas suar Matahari menyebabkan fenomena badai magnetik atau badai Matahari secara global di seluruh dunia pada 20-21 Januari. (Foto: NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivitas suar Matahari menyebabkan fenomena badai magnetik atau badai Matahari secara global di seluruh dunia pada 20-21 Januari. Lantas, apa dampaknya buat Indonesia?

Badai geomagnetik atau disebut badai Matahari adalah gangguan sementara pada magnetosfer Bumi yang diakibatkan interaksi antara angin Matahari dengan medan magnet Bumi. Fenomena ini rutin terjadi sebagai akibat aktivitas pelontara massa korona atau Coronal Mass Ejection (CME) di Matahari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan badai geomagnetik kuat yang terjadi pada 20-21 Januari 2026 berdampak terbatas di wilayah Indonesia meskipun secara global tercatat mencapai tingkat G4 atau kategori berat.

Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG Syirojudin mengatakan bahwa badai geomagnetik tersebut dipicu aktivitas Matahari yang tinggi berupa suar Matahari (solar flare) kelas X1.9 pada 18 Januari 2026 yang diikuti lontaran massa korona ataucoronal mass ejection(CME) ke arah Bumi.

"Secara global, peringatan badai geomagnetik mencapai level G4. Namun dampak fisik di wilayah Indonesia relatif lebih rendah karena posisi geografis Indonesia berada di lintang rendah," kata Syirojudin, melansir Antara, Selasa (20/1)

Ia menjelaskan, pemantauan BMKG melalui jaringan observatorium magnet Bumi, salah satunya di Tondano, Sulawesi Utara, menunjukkan gangguan magnetik lokal yang sejalan dengan peristiwa global, meskipun intensitasnya teredam oleh kondisi geomagnetik ekuator.

Berdasarkan pengamatan, indeks K lokal di wilayah Tondano tercatat berada pada kisaran K=8 hingga K=9 yang mengindikasikan terjadinya badai magnet Bumi besar hingga ekstrem, dengan puncak gangguan terekam sejak dini hari 20 Januari 2026 waktu Indonesia barat.

Indeks K dan Indeks A merupakan parameter ilmiah yang digunakan untuk mengukur tingkat gangguan medan magnet Bumi akibat aktivitas Matahari (cuaca antariksa) yang keduanya lazim dipakai oleh BMKG, NOAA, dan lembaga geofisika dunia.

Syirojudin mengatakan, Indonesia relatif terlindungi dari dampak terburuk badai geomagnetik karena fenomena equatorial electro jet yang berperan sebagai perisai alami terhadap partikel bermuatan energi tinggi dari aktivitas Matahari.

Meski demikian, BMKG mencatat potensi dampak sementara yang dapat dirasakan di Indonesia, antara lain penurunan akurasi navigasi satelit global positioning system (GPS), gangguan komunikasi radio frekuensi tinggi (HF), serta fluktuasi pada layanan internet berbasis satelit.

Ia menegaskan bahwa badai geomagnetik tersebut tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia dan tidak menimbulkan risiko fatal terhadap infrastruktur kelistrikan nasional.

"PLN dan sistem kelistrikan nasional dinilai aman dari risiko fatal akibat badai geomagnetik ini," ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan meminta operator telekomunikasi serta navigasi untuk memantau kualitas sinyal satelit selama periode gangguan berlangsung.

Selain itu, Syrojudin juga mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk terus mengikuti informasi resmi terkait aktivitas geomagnetik melalui kanal pemantauan yang disediakan BMKG.

(dmi/dmi)


[Gambas:Video CNN]