Hujan Lebat Guyur Jabodetabek Sejak Pagi, Apa Penyebabnya?

CNN Indonesia
Senin, 12 Jan 2026 09:34 WIB
Hujan deras mengguyur Jabodetabek akibat La Nina, aktivitas MJO, dan gelombang ekuator. BMKG menjelaskan penyebab cuaca ekstrem ini.
Hujan deras mengguyur Jabodetabek akibat La Nina, aktivitas MJO, dan gelombang ekuator. BMKG menjelaskan penyebab cuaca ekstrem ini. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sejak Senin pagi (12/1). Apa penyebabnya?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa peningkatan intensitas hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek, dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh sejumlah dinamika atmosfer, seperti fenomena La Nina, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), serta perambatan gelombang ekuator.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kombinasi faktor-faktor tersebut mendukung pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan potensi terjadinya hujan di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir," kata BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 9-15 Januari 2026.

Merangkum penjelasan BMKG, berikut penyebab hujan guyur Jabodetabek:

1. La Nina

BMKG memprediksi dalam sepekan ke depan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.

Pada skala global, El Nino-Southern Oscillation (ENSO), terpantau menguat pada fase negatif yang mengidikasikan La Nina Lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air.

2. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO)

Menurut BMKG aktivitas Madden-Julian Oscillation juga turut berperan memicu peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

MJO, menurut Pusat Meteorologi Maritim BMKG, adalah aktivitas intra-seasonal yang terjadi di wilayah tropis yang dapat dikenali berupa adanya pergerakan aktivitas konveksi yang bergerak ke arah timur dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang biasanya muncul setiap 30 sampai 40 hari.

Menurut BMKG aktivitas MJO secara spasial diprakirakan aktif melintasi sejumlah daerah di Tanah Air, di antaranya Aceh Bengkulu, sebagian besar Jawa, Bali, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, dan beberapa daerah di Papua.

"Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut," kata BMKG.

3. Gelombang ekuator

BMKG juga mengungkap bahwa gelombang ekuator terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah. Kombinasi Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Papua Selatan dan perairan selatan Papua Selatan.

Menurut BMKG, faktor ini juga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.

(dmi/dmi)


[Gambas:Video CNN]