Selama ini Indonesia masih menggunakan peluncur dari negara lain, seperti roket buatan India.
"Target kami untuk roket bertingkat, tentu untuk mencapai ketinggian yang lebih tinggi lagi supaya nantinya bisa dipakai untuk meluncurkan satelit," kata Ketua LAPAN Thomas Djamaludin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (15/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Alasan LAPAN Bangun Bandar Antariksa di Biak |
"Sebut saja roket yang ukurannya lebih besar tidak aman lagi kalau di uji terbang di Garut, tepatnya di wilayah Pameungpeuk. Kami harus mencari tempat yang lebih layak dan pilihan kami di Biak," tuturnya.
Menyoal satelit, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) saat ini tengah menyiapkan hight throughout sattelite (HTS) multi fungsi yang akan dinamakan Satelit Satria.
Lihat juga:LAPAN Jelaskan Fenomena Hari Tanpa Bayangan |
Satelit multifungsi ini akan memberikan sinyal broadband ke daerah terluar Indonesia yang tidak dapat diakses dengan kabel serat optik, khususnya di Kalimantan dan Papua.
[Gambas:Video CNN]
Sateli itu akan mendukung jaringan komunikasi untuk 93.900 sekolah, 47.900 kantor pemerintahan, 3.700 puskesmas, dan 3.900 markas polisi dan TNI yang sulit dijangkau kabel optik. Setidaknya ada 140 ribu titik yang tidak dapat akses internet lantaran tidak terjangkau oleh kabel tersebut.
Sebelumnya, Kemenkominfo juga sempat meluncurkan Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dari Cape Canaveral, Amerika Serikat menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX 22 Februari 2019. (din/mik)