Daur Ulang Baterai Bekas Kendaraan Listrik jadi Pilihan

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 16:49 WIB
Daur Ulang Baterai Bekas Kendaraan Listrik jadi Pilihan Baterai mobil listrik yang akan dipasang di salah satu mobil produksi. (Foto: Bill Pugliano/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kendaraan listrik berbasis baterai diprediksi merupakan solusi berkendara sekarang dan di masa depan untuk menjaga kualitas udara bersih. Ini karena mobil atau pun motor listrik tidak mengeluarkan emisi gas buang.

Meskipun kendaraan bertenaga listrik diakui tidak mengeluarkan karbon dioksida, namun di balik itu ada masalah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Berdasarkan laporan Toyota Motor Co yang diterima CNNIndonesia.com saat berkunjung ke Tokyo Motor Show (TMS) 2019 di Tokyo, Jepang beberapa waktu lalu, bahwa total penjualan mobil bertenaga listrik di dunia pada 2018 sentuh 1,28 juta. Jika ditotal populasi mobil listrik di dunia lebih dari 5 juta unit.


Sepanjang periode 2018, China sanggup menjual 707.800 unit, disusul Amerika Serikat 228.600 unit, dan Norwegia 46 ribu unit.

Penjualan mobil listrik di dunia.Penjualan mobil listrik di dunia. (Foto: CNN Indonesia/Muhammad Ikhsan)
Namun pasar mobil listrik di masing-masing negara tercatat paling besar dari Norwegia, yaitu 31,2 persen dari total penjualan domestik, dan mobil listrik di China cuma menyumbang 3,3 persen.

Dari angka penjualan bisa diperkirakan jumlah baterai bekas terbengkalai dalam beberapa tahun mendatang. Yang menjadi masalah adalah baterai bekasnya. Masalah limbahnya sangat berbahaya dan merusak lingkungan karena itu pembuangan baterai kendaraan listrik tidak boleh sembarangan.

Menanggapi kondisi ini, perlu ada kesepakatan untuk mengolah baterai bekas berbahan lithium di sebuah lokasi yang jauh dari permukiman warga.

Sebuah penelitian yang dirilis Nature pada Rabu (6/11) gagasan mendaur ulang baterai bekas ini sangat penting. Hal tersebut adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh penyedia baterai.

Pasalnya limbah baterai punya kandungan logam berat dan zat-zat berbahaya seperti merkuri, mangan, timbal, nikel, lithium yang dapat mencemari air dan tanah. Tentu kondisi ini membahayakan tubuh manusia.

"Kami percaya bahwa sangat mungkin untuk pindah ke teknologi daur ulang yang lebih maju yang tidak hanya dapat memulihkan proporsi yang lebih besar dari bahan dalam baterai tetapi juga akan lebih mampu menangani volume baterai limbah EV yang kami antisipasi datang melalui sistem," kata peneliti dari University of Birmingham Gavin Harper mengutip CNN.

Di satu sisi, baterai yang terpasang pada kendaraan tidak dapat dilepas oleh orang yang kurang ahli menanganinya. Hanya orang-orang yang memiliki keahlian khusus yang dapat melakukannya. Sebab bila salah saat pembongkaran kemungkinan buruk seperti baterai meledak dapat membahayakan orang di sekitarnya.

Artinya selain ditangani ahli, daur ulang baterai kendaraan listrik menjadi solusi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil yang saat ini menjadi salah satu penyebab perubahan iklim.

[Gambas:Video CNN] (ndn/mik)