Menurut Harry, perlu dilakukan peninjauan dari sisi kendaraan yang digunakan. Mengingat, ledakan bisa dipicu akibat kebocoran ketika dispenser bahan bakar (mesin untuk memompa bensin) dimasukkan ke dalam tangki hingga memicu percikan api.
"Saya menilai gelombang elektromagnetik ponsel di area SPBU tidak bisa memicu meledaknya dispenser saat dimasukkan ke tangki kendaraan. Padahal, dispenser itu ketika dikeluarkan ada udara yang lewat, kena angin dan konsentrasinya tidak pekat," ujarnya kepada CNNIndonesia.com saat dihubungi melalui telepon, Kamis (17/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya ponsel memang tidak boleh dinyalakan saat ingin mengisi bensin karena dapat memengaruhi laju dispenser, ketika dimasukkan ke tangki kendaraan," ucapnya.
"Namun, sekali lagi bahwa gelombang elektromagnetik ponsel tidak menyebabkan SPBU bisa meledak. Ada faktor lain."
Kendati tak ada korban jiwa, empat buah dispenser dan mobil milik pengemudi terbakar. Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur AKBP Hery Purnomo mengatakan mobil yang terbakar telah dimodifikasi dengan tambahan tangki dan pompa sehingga diduga menjadi pemicu percikan api.
"Di dalamnya mobilnya dimodifikasi dengan tambahan tangki dan pompa. Kemungkinan api berasal dari percikan listrik pada mobil tersebut," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (din/evn)