Studi Ungkap Indonesia Belum Siap Adopsi Kecerdasan Buatan

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 05:31 WIB
Studi Ungkap Indonesia Belum Siap Adopsi Kecerdasan Buatan Ilustrasi kecerdasan buatan yang diadopsi di restoran. (Foto: REUTERS/Jason Lee)
Jakarta, CNN Indonesia -- Studi yang dilakukan IDC Asia Pasifik dan Microsoft Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia belum siap untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Studi ini mengevaluasi enam dimensi yang menjadi indikator dalam memastikan keberhasilan penerapan Al di suatu negara. 

Head of Operations IDC Indonesia Mevira Munindra mengatakan keenam dimensi tersebut adalah Strategi, Investasi, Budaya, Kapabilitas, Infrastruktur dan Data. 

"Dalam mengadopsi Al secara menyeluruh, temuan penelitian kami menyebutkan Indonesia belum siap untuk hal tersebut. Untuk berhasil dalam penerapan Al, Indonesia perlu meningkatkan kesiapannya secara substansial," ujar Mevira pada acara Media Briefing Microsoft Innovation Summit di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (26/3).


Hasil studi menunjukkan bahwa Indonesia perlu membangun investasi, strategi, dan data agar bisa mengakselerasi penerapan AI secara menyeluruh. Pasalnya Indonesia masih ketinggalan apabila dibandingkan dengan negara di Asia Pasifik. 

Studi yang sama menunjukkan Indonesia setara dengan negara di Asia Pasifik dalam kapabilitas, budaya, dan infrastruktur. 

"Para pengambil keputusan di organisasi harus menjadikan Al sebagai bagian inti dari strategi mereka dan mengembangkan budaya yang tangkas dalam mempelajari hal baru," kata Mevira. 

Dalam kesempatan yang sama Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee mengatakan teknologi AI bisa membantu manusia untuk mencapai hal - hal yang belum terbayangkan. 

Bagi Haris, segala aktivitas ekonomi dan bisnis yang belum mengimplementasikan Al akan tertinggal dibandingkan yang sudah menerapkan AI. 

"Hal itu karena Al adalah teknologi yang secara signifikan dapat mempercepat transformasi bisnis, memungkinkan inovasi, mendorong produktivitas karyawan, dan memastikan pertumbuhan lebih lanjut dari sebuah negara," kata Haris. 

Penelitian ini diikuti oleh 1.605 pemimpin bisnis dan 1.585 karyawan di seluruh Asia Pasifik, termasuk 112 pemimpin bisnis dan 101 karyawan di Indonesia. (jnp/evn)