Menakar Kekuatan Bus Listrik Moeldoko untuk Transjakarta

fea, CNN Indonesia | Kamis, 21/03/2019 19:55 WIB
Menakar Kekuatan Bus Listrik Moeldoko untuk Transjakarta Mobil Anak Bangsa (MAB) merupakan salah satu pihak penyedia yang bakal menyuplai bus listrik Transjakarta. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mobil Anak Bangsa (MAB) merupakan salah satu pihak penyedia yang bakal menyuplai bus listrik Transjakarta buat diuji coba di rute Bundaran Senayan - Monas pada tahun ini.

Perusahaan yang didirikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko itu mengaku prototipe bus listrik yang sudah dibangun siap diuji dan bahkan siap diproduksi bila akhirnya diminta Transjakarta.

Prototipe bus listrik MAB bernama MD12-E yang muat 60 penumpang. Bus yang saat ini dipajang di acara Busworld South East Asia 2019 di Jakarta ini memiliki panjang 12 m, lebar 2,5 m, tinggi 3,72 m, dan wheelbase 6,1 m.


Baterai yang digunakan yakni LiFePo (Lithium Ferro Phosphate) 576 V dan 450 Ah dengan kapasitas 259,2 kWh. Ada 12 baterai pada MD12-E, sebagian besar diletakkan di kolong dan dua unit di kabin. Bila dijumlahkan, total bobot 12 baterai itu 2,29 ton.

Baterai digunakan buat memberi energi pada motor listrik HYYQ 800-1200 PMSM (Permanent Magnetic Synchronous Motor). Output motor listrik 200 kW (268 hp) dengan torsi 2.400 Nm.

MAB mengklaim mobil berkapasitas 60 penumpang ini bisa dicas dari 0-100 persen selama tiga jam. Bila terisi penuh bus sanggup menjelajah hingga 300 km, namun idealnya setelah pemakaian 250 sampai 275 km baterai sudah perlu diisi ulang.

Pihak MAB mengatakan kecepatan MD12-E dibatasi hanya 70 km per jam atas alasan keamanan dan keselamatan.

Menurut Presiden Direktur MAB, Leonard, prototipe ini diproduksi oleh perusahaan karoseri New Armada. Dia menjelaskan desain, sasis, dan bodi dikerjakan anak bangsa. Komponen yang belum bisa dibuat sendiri adalah baterai, motor listrik, dan sistem kontrol.

"Kami masih bekerja sama dengan mereka (perusahaan luar negeri) tentang baterai. Baterai belum bisa, motor listrik juga belum bisa, controller juga belum bisa. Tetapi dalam proses itu kami bekerja sama dengan mitra kami di luar, menghendaki transfer teknologi," kata Leonard.

Pada MD12-E, tiga komponen impor yang disebut didatangkan dari China. Baterai itu dijelaskan punya usia pakai lima tahun, setelah itu wajib diganti dan harganya dikatakan 'mahal'.

"Mungkin baterai itu bisa sepertiga dari kendaraan itu sendiri harganya. Tapi kan baterai yang digunakan tidak dibuang tapi bisa digunakan untuk industri rumah tangga, bisa jadi pembangkit listrik, solar cell," kata Leonard.

Leonard meyakini walau posisi sebagian baterai ada di kolong bus, komponen ini tahan banjir. Menurut dia pihaknya sudah melakukan pengujian baterai ditenggelamkan 2-3 meter di dalam air dan hasilnya dikatakan aman jadi disimpulkan tidak ada masalah kala banjir.

Penghematan

Dalam hitung-hitungan Leonard, misalnya biaya operasional bus konvensional Rp100 per km, pada MD12-E hanya Rp30. Bukan hanya soal biaya operasional, dikatakan juga bus listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dan polusi suara seperti bus konvensional.

MAB saat ini sedang menyiapkan diri untuk memproduksi bus listrik dalam jumlah banyak melalui Karoseri Anak Bangsa yang menjadi bagian perusahaan. Lokasi produksinya disebut berada di Kudus.

Bila sudah ada komitmen dari Transportasi Jakarta (Transjakarta) terkait pengadaan bus listrik, Leonard mengaku bisa memproduksi hingga 100 unit per bulan. (fea/mik)