Toyota Korban Serangan Siber di Australia

ray, CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 11:01 WIB
Toyota Korban Serangan Siber di Australia Logo Toyota. (Foto: Jared C. Tilton/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Toyota, perusahaan otomotif terbesar di dunia mengungkap serangan siber kepada perusahaannya di Australia. Serangan siber mencoba untuk masuk mengakses ke data karyawan dan konsumen.

Dalam laporan Toyota, kejadian ini sudah mendapat penanganan dan sedang diselidiki oleh tim IT internal. Beruntung kejahatan siber tak bisa sampai mengakses data karyawan atau seluruh pelanggan Toyota di Australia.

"Penyerangan ini sedang ditangani oleh departemen TI kami, yang bekerja melibatkan para pakar keamanan dunia maya internasional untuk mengaktifkan dan menjalankan kembali sistem IT," sebut Toyota dilansir zdnet.com, Kamis (21/2).


Stasiun radio setempat, 3AW melaporkan bahwa serangan itu dimulai Rabu (20/2), dan pelapor yang menguhubungi 3AW menjelaskan "para karyawan diperbolehkan untuk pulang lebih awal dan serangan siber tersebut potensi mengganggu data internal Toyota."

Kejahatan siber sempat melanda Melbourne. The Age melaporkan bahwa pihak Melbourne Heart Group yang bertempat di Rumah Sakit Cabrini tidak dapat mengakses beberapa data pasien selama berminggu-minggu sejak serangan ransomware.

Dalam pernyataan di situs resminya, Cabrini mengatakan bahwa Heart Group menyewa ruang di rumah sakit dengan sistem yang telah dipisahkan. Namun peretas mampu berhasil mengakses sistem pertahanannya.

"Penyimpanan data dan sistem informasi lainnya dalam ruang suite dimiliki dan dikelola oleh spesialis, bukan oleh Cabrini. Spesialis bukan karyawan Cabrini," kata Dr Michael Walsh dari Cabrini.

Serang siber di Australia terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison sempat menuduh kejahatan siber dilakukan oleh pemerintah asing, sebab serangan sempat hendak mengakses jaringan komputer parlemen dan berbagai partai politik.

Morrison tidak menyebut nama negara yang dituduh sebagai otak dalam serangan siber tersebut. (mik)