Porsche Terancam Didenda Karena Bohong Soal 'Dieselgate'

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 11:48 WIB
Porsche Terancam Didenda Karena Bohong Soal 'Dieselgate' Dalam sebuah pernyataan, Porsche mengatakan akan sepenuhnya bekerja sama selama proses penyelidikan. (Foto: REUTERS/Michaela Rehle)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jerman melanjutkan proses hukum terhadap peran Porsche AG dalam skandal kecurangan emisi atau kasus dieselgate yang muncul pada 2015. Porsche AG berkantor pusat di Stuttgart, yang merupakan anak usaha dari grup Volkswagen menghadapi denda dalam jumlah besar.

"Kami telah melanjutkan proses administrasi (terhadap Porsche AG) di mana pengadilan dapat menjatuhkan denda," kata juru bicara kantor kejaksaan Stuttgart kepada AFP.

Keputusan melanjutkan penyelidikan terhadap Porsche karena perusahaan tersebut dinilai melakukan penipuan dan beriklan palsu atas hasil emisi gas buang mesin kendaraan yang mereka produksi.


Hingga berita ini diturunkan kantor Kejaksaan Jerman menolak memberikan keterangan mendetail terkait masalah yang tengah dihadapi Porsche, termasuk penyelidikan melibat mesin diesel yang ditenggarai menjadi objek kecurangan Porsche.

Jaksa penuntut di Stuttgart juga telah melakukan investigasi terhadap dua karyawan Porsche dan satu mantan karyawan Porsche, serta orang-orang yang dianggap terlibat dieselgate, atas dugaan penipuan dan iklan palsu.

Dalam sebuah pernyataan, Porsche mengatakan akan sepenuhnya bekerja sama selama proses penyelidikan, namun mereka menegaskan kembali bahwa "perusahaan tidak melanggar aturan yang berlaku".

Pada Juni 2018, Pengadilan Jerman dilaporkan telah menjatuhi hukuman denda kepada Volkswagen AG sebesar US$1,2 miliar atau setara Rp16,7 triliun karena terbukti melakukan penipuan yang disebut dieselgate.

Setelah itu, otoritas setempat juga mendenda Audi sebesar 800 juta euro atau sekitar Rp14 triliun.

Kasus dieselgate mencoreng nama besar VW AG sebagai perusahaan otomotif terbesar di dunia. Kasus tersebut menyeret 11 juta kendaraan produksi VW AG yang mereka jual di dunia.

Dalam kasus ini, perusahaan menggunakan peranti khusus agar kendaraan lulus syarat regulasi emisi pada saat pengecekan, meski faktanya mobil mengeluarkan gas berbahaya seperti NOx di atas batas aman. (mik)