Ragam Penamaan Supermoon, Snow Moon Hingga Hunger Moon

CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 11:01 WIB
Ragam Penamaan Supermoon, Snow Moon Hingga Hunger Moon Ilustrasi supermoon. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Fenomena supermoon akan menerangi langit Selasa (19/2) membuat bulan terlihat 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dari biasanya. Di beberapa negara, supermoon yang terlihat malam ini memiliki sejumlah sebutan mulai dari super Snow Moon, Hunger Moon, hingga Storm Moon.

Istilah supermoon pertama kali diperkenalkan oleh Richard Nolle pada tahun 1979. Penggunaan istilah supermoon mengacu pada bulan purnama yang lebih terang dari biasanya.

Gordon Johnston dalam situs NASA menuliskan penamaan supermoon secara historis ada kaitannya dengan penanggalan dan perubahan musim di masing-masing daerah.


Di masa lalu, suku-suku asli Amerika kerap menamakan purnama dan mengaitkannya dengan perubahan musim.

Suku asli Amerika menamakan supermoon yang terjadi pada Februari sebagai super snow moon. Hal itu lantaran saat terjadi fenomena supermoon bersamaan dengan musim dingin yang ditandai dengan turunnya salju.

Menurut Farmers' Almanac, salju umumnya turun di bulan Februari di bagian utara dan timur AS sehingga penamaan fenomena ini dinamakan snow moon.

Lain halnya dengan suku di Amerika Utara yang menggunakan penamaan Hungry Moon. Supermoon yang terjadi saat musim dingin membuat pasokan makanan langka dan perburuan lebih sulit.

Sementara orang-orang Eropa menyebut fenomena supermoon malam ini sebagai Pre Easter Moon karena bertepatan dengan sebelum terjadinya Paskah.

Dalam kalender Islam, supermoon menjadi penanda tengah bulan Jumadil Akhir atau bulan keenam kalender. Awal bulan ditandai dengan kemunculan bulan sabit.

Mengutip NASA, puncak supermoon malam ini akan terjadi hanya 6 jam 50 menit setelah perigee.

Supermoon berikutnya pada tahun 2019 akan terjadi pada 21 Maret mendatang. Bedanya, jarak bulan dan perigee pada Maret nanti mencapai 360.000 kilometer. (evn/evn)