Hoaks Pilpres Dibuat untuk Picu Kecemasan dan Ketakutan

CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 09:36 WIB
Hoaks Pilpres Dibuat untuk Picu Kecemasan dan Ketakutan Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ahli ilmu sosial asal Universitas Indonesia Roby Muhammad mengatakan informasi hoaks yang beredar jelang Pemilihan Presiden 2019 dilakukan untuk memicu rasa kecemasan, ketakutan, dan harapan masyarat.

Saat ada informasi masuk, otak akan bekerja untuk menentukan untuk mempercayai suatu informasi atau tidak.

Dikatakan Roby, tujuan tersebut lantaran manusia pertama kali menyaring informasi yang masuk melalui bagian otak (amigdala) yang berfungsi menentukan persepsi emosi seperti marah, takut, cemas, dan lainnya.


Amigdala juga bekerja untuk mengambil keputusan apakah akan percaya terhadap suatu informasi atau tidak. Ketika informasi melewati amigdala, hoaks bisa diterima oleh individu tersebut.

"Hoaks ini menargetkan kecemasan, ketakutan harapan manusia. karena mudah mempengaruhi perilaku dan sikap termasuk perilaku dan sikap politik yang sekarang sedang sangat relevan," kata Roby dalam acara bertajuk "The Science Behind Hoax" di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (18/2).

Berbeda dengan makhluk lainnya, otak manusia memiliki kompleksitas tinggi. Manusia bisa berbohong demi kepentingan di luar keberlangsungan hidup.

Kendati demikian, makhluk hidup sudah terbiasa berbohong. Kebohongan sudah terjadi sejak empat miliar tahun lalu. Bentuk kebohongan makhluk hidup bisa berupa mimikri hingga kamuflase.

Menurut Roby, informasi hoaks merupakan bentuk kebohongan yang memiliki tujuan tertentu. Hoaks terkait isu politik bertujuan untuk mengubah pandangan politik.

"Tidak heran jika hoaks-hoaks ini makin banyak muncul karena dengan alasannya  pasti mempengaruhi sikap dan perilaku politik dalam pemilu nanti karena dipengaruhi harapan dan kecemasan para pemilih," ucapnya.

Menurutnya, pemblokiran terhadap informasi hoaks bukan langkah efektif. Hal itu lantaran penyebaran media sosial sudah menjamur di berbaga media sosial. Ibarat pepatah mati satu tumbuh seribu, penyebaran hoaks menjamur meski sudah dilakukan pemblokiran dengan menggunakan fitur "share".

Tonton juga video: Rudiantara Bicara Ujaran Kebencian di Medsos

[Gambas:Video CNN]
(jnp/evn)