Pemodal Ventura Buka Suara soal Status Unicorn untuk Startup

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 20:48 WIB
Pemodal Ventura Buka Suara soal Status Unicorn untuk Startup Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan tidak ada waktu yang ideal yang dibutuhkan sebuah perusahaan startup untuk mendapatkan status unicorn.

"Tidak ada rumus tetap untuk menentukan hal tersebut. Bisa cepat, bisa lambat," kata Willson melalui keterangan tertulisnya yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (18/2).

Selain itu, menurut dia, startup yang mendapatkan status unicorn bergantung pada seberapa besar pemanfaatan teknologi yang mereka lakukan demi mengelola perusahaan yang mereka dirikan.


Lalu, Willson mengatakan status unicorn hanyalah penamaan semata yang tidak terlalu penting untuk dikejar.

"Yang terpenting bagi para startup bukanlah status unicorn atau status-status yang lain, melainkan seberapa besar skala ekonomi dan nilai tambah yang mereka tawarkan kepada masyarat," jelasnya.


Istilah unicorn digunakan untuk perusahaan startup yang memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar. Namun, Willson mengatakan investor tidak berinvestasi berdasarkan status unicorn itu.

"Investor memberikan investasi dengan cara memperhitungkan berapa uang yang perlu mereka investasikan (sebut saja X) agar sebuah startup nantinya bisa berkembang hingga mempunyai nilai yang lebih tinggi (sebut saja Y)," kata dia.

"Selisih dari Y dan X tadi akan menjadi keuntungan bagi investor. Jadi, seorang investor tidak harus berinvestasi pada startup unicorn," sambungnya.

Sebagai informasi, Indonesia memiliki empat perusahaan startup yang menyandang status unicorn yaitu Bukalapak, Gojek, Traveloka dan Tokopedia.

Pasar Potensial

Menurut dia, munculnya empat unicorn itu disebabkan oleh Indonesia menduduki posisi keempat jumlah populasi mayarakat terbanyak di dunia. Selain itu, 40 persen penduduk Asia Tenggara berasal dari Indonesia dengan kontribusi PDB sebesar US$1 triliun.

"Tidak hanya itu, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan tingkat penetrasi internet terbesar di dunia, hal itu menjadikan Indonesia sebagai target pasar yang potensial bagi para startup unicorn," jelas Willson.


Unicorn menjadi pembahasan yang hangat di kalangan lapisan masyarakat berawal dari calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo melontarkan pertanyaan terkait unicorn kepada lawannya yakni Prabowo Subianto pada saat debat capres kedua, yang dilaksanakan di Hotel Sultan, Minggu (17/2) malam.

Saat bertanya soal bagaimana upaya Prabowo membangun infrastruktur demi mengembangkan unicorn di Indonesia, Ketua Umum Partai Gerindra itu tampak tak mengerti apa yang dimaksud dengan istilah unicorn.

"Yang Bapak maksud unicorn? Maksudnya yang online-online itu, iya, kan?" kata Prabowo.

Sikap Prabowo itu langsung mendapatkan banyak respon khususnya warganet di jejaring sosial media twitter. Sejumlah warganet pun menyerukan hashtag #DebatSebel dan sempat menjadi trending topik dunia. (din/asa)