Cegah DBD, Pemprov DKI Buat Aplikasi Peringatan Dini

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 03:24 WIB
Cegah DBD, Pemprov DKI Buat Aplikasi Peringatan Dini Ilustrasi (CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemprov DKI Jakarta meluncurkan aplikasi berbasis Android yang disebut dengan DBDKlim. Aplikasi ini akan memberikan peringatan dini penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) berbasis iklim yang bekerjasama dengan BMKG.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti menjelaskan DBDKlim memadukan data rumah sakit milik Dinkes DKI dengan pemodelan cuaca milik BMKG.

"Dari data ini bisa memprediksi dua bulan ke depan bagaimana kira-kira gambaran kelembaban di DKI yang berimplikasi terhadap peningkatan kasus (DBD)," tutur Widyastuti di Balai Kota Jakarta, Rabu (30/1).


Sebab, peningkatan curah hujan dan kelembaban udara berkolerasi dengan suburnya perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Widyastuti menegaskan aplikasi DBDKlim tersebut bukan untuk mencegah penyebaran kasus DBD di Jakarta. Aplikasi tersebut, sambungnya, merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif Pemprov DKI terhadap kasus DBD.

"Sebagai bentuk kewaspadaan dini melalui berbagai faktor, salah satunya melalui iklim," ujarnya.

Selain aplikasi DBDKlim, Pemprov DKI juga meluncurkan aplikasi E-Jiwa dan Jak-Track. E-Jiwa merupakan aplikasi berbasis android untuk melakukan deteksi dini atas masalah kejiwaan seseorang.

Sedangkan Jak-Track merupakan aplikasi untuk melakukan tracking atau pelacakan baik data, laporan, kemajuan, dan capaian atas program penanggulangan HIV/AIDS di DKI Jakarta.

Widyastuti menuturkan aplikasi E-Jiwa awalnya diinisiasi oleh Puskesmas Kecamatan Cilandak. Dengan aplikasi tersebut, petugas kesehatan akan langsung turun ke lapangan untuk mengindentifikasi dari rumah ke rumah untuk memeriksa kesehatan jiwa seseorang. Nantinya, bila ditemukan ada masalah akan dilakukan pendampingan hingga yang bersangkutan sembuh.

Kemudian untuk aplikasi Jak-Track, menurut Widyastuti menjadi bentuk inovasi Dinkes untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan informasi dan pelayanan terkait HIV AIDS.

"Dengan layanan mobile online diharapkan lebih banyak lagi warga kami yang bisa dijangkau dalam pendampingan maupun terapi," kata Widyastuti.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan ketiga aplikasi tersebut menjadi bentuk inovasi di bidang kesehatan yang diharapkan bisa mempermudah masyarakat dalam mendapatkan informasi kesehatan.

"Masalah kesehatan di Jakarta ini membutuhkan terus menerus solusi baru," kata Anies. (dis/eks)