Dompet Digital dan Makanan, Potensi Tambang Emas Grab-Gojek

CNN Indonesia | Kamis, 31/01/2019 10:11 WIB
Dompet Digital dan Makanan, Potensi Tambang Emas Grab-Gojek Ilustrasi (Dok. Grab)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dompet digital hingga pengiriman makanan bisa menjadi tambang emas teranyar bagi penyedia layanan ride-hailing seperti Grab dan Gojek. Sebab, menurut CEO Spire Jeffrey Bahar, layanan pesan antar makanan lebih menguntungkan dari ride-hailing. Sehingga ia memperkirakan kedua perusahaan itu akan fokus dalam membangun infrastruktur.

Pasalnya Jeffrey mengatakan dalam satu kali pemesanan makanan, konsumen bisa menghabiskan uang lebih banyak 10 hingga 30 kali lipat dibandingkan ketika memesan layanan ride-hailing. Hitung-hitungan ini muncul dengan mengacu pada tarif satu kali perjalanan yang dipukul rata menjadi Rp10 ribu.

"Mereka akan lebih banyak kembangkan food delivery karena secara nilai nominal ini besar. Jadi buat mereka itu transaksi besar karena sekali beli makanan bisa Rp50 ribu sampai Rp100 ribu," kata Jeffrey saat ditemui usai konferensi pers di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (30/1)


Jeffrey mengatakan jika infrastruktur pemesanan makanan berkembang, maka hal ini juga akan menguntungkan untuk layanan dompet digital kedua perusahaan.

Jika seorang pengguna dompet digital hanya memerlukan Rp100 ribu untuk 10 kali perjalanan, maka ia bisa menghabiskan Rp100 ribu untuk satu kali pemesanan.

"Ini akan bantu uang yang menganggur dan parkir di dompet digital akan besar. Orang akan butuh saldo lebih besar yang biasanya butuh Rp100 ribu untuk 10 kali ride, sekarang Rp100 ribu cukup untuk dua order makanan saja," tutur Jefrey.

Jeffrey mengatakan besarnya nilai transaksi layanan pemesanan makanan akan meningkatkan aliran kas di aplikasi dompet digital secara signifikan. Mau tidak mau, konsumen dompet digital harus mengendapkan uang lebih besar untuk memesan makanan dibandingkan memesan ride-hailing.

Dari 280 koresponden, lembaga survei Spire mencatat baru 100 orang yang menggunakan dompet digital. Dari 50 orang yang menggunakan Ovo, 40 persen orang menggunakan Ovo untuk membeli pulsa. Sementara itu, dari 50 orang yang menggunakan Gopay baru 28 persen yang menggunakan Gopay untuk membeli pulsa.

Sebanyak 40 persen pengguna Gopay menggunakan Gopay untuk membeli makanan. Sementara itu, hanya 26 persen pengguna Ovo yang membeli makanan. (jnp/eks)