Sopir Gojek Lebih Sering Berbuat Curang Dibanding Grab

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/01/2019 18:01 WIB
Sopir Gojek Lebih Sering Berbuat Curang Dibanding Grab Ilustrasi sopir ojek online. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga riset Spire menunjukkan penipuan lebih tinggi di kalangan pengemudi Gojek sebesar 70 persen mengaku pernah melakukan kecurangan. Sebaliknya hanya 10 persen pengemudi Grab yang melakukan hal serupa.

"Satu dari 10 pengemudi Grab mengakui pernah melakukan kecurangan. Sementara 7 dari 10 sopir Gojek," ujar deputy CEO Spire Jeffrey Bahar ketika memaparkan hasil survei di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Rabu (30/1).

Jeffrey menjelaskan kecurangan terus terjadi seiring dengan bertumbuhnya industri ride-sharing. Menurutnya, pertumbuhan jumlah pesanan (demand) tidak seimbang dengan tingginya jumlah sopir baru yang direkrut (supply).


Akibatnya kompetisi ketat antar sopir membuat mereka berbuat curang agar bisa bersaing. Terlebih Gojek dan Grab kerap mengiming-imingi para mitra dengan bonus jika memenuhi target pesanan harian.

"Kecurangan tumbuh karena faktor kompetisi. Biasanya satu jam bisa dapat 10 konsumen sekarang cuma lima, maka mereka pakai fake GPS untuk kejar isentif juga," ucapnya.

Trik Kian Beragam

Jeffrey mengatakan pengemudi melakukan kecurangan lantaran sistem keamanan aplikasi Gojek masih minim. Pengemudi diketahui melakukan kecurangan dengan menggunakan aplikasi fake GPS untuk mengatur titik GPS meskipun ia tidak berada di lokasi tersebut hingga membuat order fiktif.

Menurutnya, sopir yang terlibat dalam survei ini mengakui jika aplikasi Gojek mudah diakali sehingga menjadi celah untuk berbuat curang. Namun tidak demikian dengan aplikasi Grab.

"Pengakuan mitra, sistem Gojek bisa mudah diakali dengan aplikasi modifikasi sehingga banyak yang pakai Fake GPS. Ketika di Grab melakukan kecurangan dia bisa ketahuan dari sistem. Dari sisi Grab, pengemudi mengakui keamanan sudah ketat sehingga bisa identifikasi indikasi kecurangan," imbuh Jeffrey.

Fake GPS juga kerap menjadi solusi bagi sopir agar tidak berkerumun di satu tempat, terutama di zona merah. Zona merah merupakan istilah bagi mitra untuk tempat yang tinggi permintaan, umumnya di pusat perbelanjaan dan perkantoran.

"Melakukan kecurangan dengan fake FPS karena memudahkan sopir mendapat pesanan tanpa harus mengunggu di satu titik tertentu," imbuhnya.

Selain fake GPS dan order fiktif, menurutnya mitra pengemudi kini memiliki trik baru untuk melakukan kecurangan. Sopir terkadang ada yang menaikkan harga pesanan makanan dan minum ketika konsumen melakukan pemesanan lewat aplikasi.

"Pengemudi juga suka menaikkan harga makanan dari harga seharusnya . Kalau pengemudi biasanya sebut harganya naik ke konsumen. Kami sarankan harga makanan harus di update oleh pemilik restoran," katanya.

Dalam survei ini, Spire mewawancarai 40 pengemudi yang memiliki aplikasi Grab dan Gojek di Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. (jnp/evn)