Atlet Asian Games Dibayangi Polusi dan Kebakaran Hutan

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 26/07/2018 16:36 WIB
Atlet Asian Games Dibayangi Polusi dan Kebakaran Hutan Ilustrasi. (Foto: ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiga pekan jelang Asian Games 2018, Jakarta masuk dalam daftar lima kota terbesar dengan tingkat polusi udara tertinggi.

Pemantau kualitas udara AS, Air Visual mencatat pada Kamis (26/7) Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta berada di angka 158, naik 13 poin dari sehari sebelumnya di angka 145.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago mengakui jika saat ini tingkat polusi di udara meningkat. Asap kendaraan bermotor menyumbang besar dalam menurunnnya kualitas udara di Jakarta.


"Iya betul, 70 persen polusi di Jakarta masih berasal dari kendaraan bermotor," kata Dasrul saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (26/7).

Meski demikian, Dasrul menyebut hal tersebut hanya bersifat sesaat lantaran partikel PM2,5 di Jakarta sejak 22 Juni lalu sebanyak 30 mg per meter kubik. Indeks rata-rata tahunan di Jakarta biasanya berada di angka 15 mg per meter kubik, jauh dari standar WHO 10 mg per meter kubik untuk kota metropolitan.

Sementara rata-rata partikel PM2,5 di Jakarta berada di angka 65 mg per meter kubik atau jauh dari standar WHO 25 mg per meter kubik. Dasrul menyebut kondisi demikian hanya sesaat jika melihat kemacetan dan pembangunan infrastruktur.

"Jadi itu kondisi sesaat, kalau macet satu jam ya itu bisa naik. Sekarang disumbang juga oleh infrastruktur yang dikebut sehingga membuat ada penyempitan jalan," imbuhnya.

Meski demikian, ia mengatakan Jakarta masih terbantu geografis yang berada dekat laut sehingga angin turut membantu kondisi demikian.

Palembang waspadai kebakaran hutan

Lain Jakarta, lain pula kualitas udara di Palembang-- kota yang juga jadi tempat diselenggarakannya pesta olahraga Asian Games. Dasrul memastikan tingkat polusi di Palembang jauh lebih aman ketimbang di Jakarta.

Namun demikian, ia tetap meminta sikap waspadai polusi kebakaran hutan di Sumatera Selatan. Terlebih pada Agustus-September saat puncak musim kemarau.

"Nah kalau untuk Palembang saya rasa aman, asal tidak terjadi kalhutla (kebakaran hutan dan lahan). Teman-teman di lapangan tapi udah bersiaga kok," imbuhnya. (evn)


ARTIKEL TERKAIT