Dianggap Monopoli, Facebook Kembali Diprotes

RBC, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 08:39 WIB
Dianggap Monopoli, Facebook Kembali Diprotes Ilustrasi (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook kembali menerima protes. Kali ini sejumlah kelompok aktivis membuat kampanye untuk memecah monopoli yang dilakukan oleh Facebook. Mereka menganggap Facebook sudah terlalu menguasai kehidupan manusia dan demokrasi.

Sehingga, mereka meminta Facebook untuk melepas Instagram, WhatsApp, dan Messenger. Mereka pun mendorong Facebook untuk menerapkan aturan privasi yang ketat.

Pasalnya, Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Messenger adalah aplikasi yang digunakan oleh sebagian besar warga Bumi.


Para aktivis ini lantas membuat situs dan laman Facebook untuk menggalang dukungan atas petisi mereka. Petisi ini akan diajukan kepada Federal Trade Commission (FTC).

Dalam petisi itu, disebutkan bahwa Facebook dan CEO-nya, Mark Zuckerberg menguasai kehidupan manusia dengan cara melacak ke mana manusia pergi--di dunia nyata dan di dunia maya--dan memberikan informasi pribadi pengguna kepada pengiklan.

Kelompok-kelompok aktivis tersebut juga mengatakan Facebook secara sepihak menentukan berita apa yang akan dilihat oleh miliaran orang setiap hari, serta membeli atau menghancurkan para kompetitor potensial untuk menjaga kelanggengan monopoli yang dilakukannya.

"Facebook sudah memiliki kontrol atas ekonomi, ekosistem informasi, politik, dan bahkan kesehatan emosi manusia," ujar David Segal yang merupakan Direktur Eksekutif dari salah satu kelompok aktivis, Demand Progress, seperti dilansir dari CNET

Masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam membagikan informasi di jejaring sosial terbesar di dunia itu setelah informasi tentang 87 juta pengguna Facebook diduga disalahgunakan oleh Cambridge Analytica pada pemilihan presiden AS 2016 lalu.

Setelah kasus tersebut, Facebook telah memperbaharui kebijakannya tentang data, Zuckerberg mengajukan permohonan maaf dan bersaksi di hadapan kongres AS. Ia juga menyatakan bahwa Facebook akan memperkuat peraturan tentang iklan politik.

Merespons kampanye tersebut, seperti dilansir dari Phys, seorang juru bicara mengatakan saat ini Facebook berada dalam lingkungan yang kompetitif, dan para penggunanya di saat yang bersamaan juga menggunakan jasa-jasa yang diberikan oleh perusahaan jejaring sosial lain.

Facebook memiliki sekitar dua miliar pengguna di seluruh dunia, sedangkan Messenger dan WhatsApp masing-masing memiliki lebih dari satu miliar pengguna.

Untuk mememecah perusahaan besar ini diperlukan investigasi panjang oleh pihak yang berwenang, belum lagi persidangan-persidangan yang juga akan memakan waktu lama.

Beberapa kelompok yang tergabung dalam kampanye ini antara lain Demand Progress, MoveOn, dan SumOfUs.

Hingga saat ini FTC belum memberikan komentar terkait kampanye dan petisi tersebut. Berbicara soal aplikasi yang menguasai hajat hidup orang banyak, bukan hanya Facebook yang banyak memberi pengaruh di internet seperti dituduhkan kelompok tersebut.

Satu perusahaan raksasa lainnya adalah Google. Namun, sepertinya Facebook tengah menjadi pusat prahara belakangan ini lantaran tersandung skandal penyalahgunaan data pengguna oleh Cambridge Analytica. (eks/eks)