Pegawai Facebook Salahgunakan Data Demi Kuntit Pemakai Tinder

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 03/05/2018 09:55 WIB
Pegawai Facebook Salahgunakan Data Demi Kuntit Pemakai Tinder Facebook dilaporkan telah memecat seorang karyawannya yang diduga menyalahgunakan pekerjaan untuk menguntit wanita di Tinder. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Facebook dilaporkan telah memecat seorang karyawannya yang diduga menyalahgunakan pekerjaan untuk menguntit wanita di Tinder. Perusahaan menjalankan investigasi untuk membuktikan tuduhan tersebut.

Ahli keamanan siber, Jackie Stokes, membenarkan bahwa terduga memang melakukan penguntitan secara online. Menurut korban, pria tersebut memang bekerja di Facebook dan dia menemukannya di Tinder.

Pria ini pun terkoneksi LinkedIn dan tersambung dengan melalui koneksi salah satu karyawan Facebook lainnya.


Stokes yang bekerja untuk Spyglass Security mencuitkan screenshot percakapan antara dirinya dan tersangka. Dia tidak mengatakan di mana percakapan itu terjadi, tetapi dalam tweet terpisah mengatakan dia memiliki "Tinder logs".
Hanya beberapa jam setelah menyelidiki itu, karyawan tersebut dipecat. Facebook menjawab bahwa pihaknya memang tidak bisa memberikan toleransi kepada penyalahgunakaan platformnya semacam ini.

"Kami menjaga kontrol dan kebijakan teknis yang ketat untuk membatasi akses karyawan ke data pengguna. Akses tergantung pada fungsi pekerjaan, dan karyawan yang ditunjuk hanya diizinkan untuk mengakses sejumlah informasi yang diperlukan untuk melaksanakan tanggung jawab pekerjaan mereka, seperti menanggapi laporan bug, pertanyaan dukungan akun, atau permintaan hukum yang valid," demikian jawab juru bicara Facebook seperti yang dikutip dari Business Insider.

Sayangnya, tidak jelas bagaimana staf ini bisa menggunakan aksesnya di Facebook untuk menguntit seseorang secara online. Stokes juga enggan mengungkap.

Praktik perlindungan privasi Facebook telah menjadi sorotan sejak perusahaan itu mengungkapkan 87 juta data pengguna Facebook jatuh ke Cambridge Analytica yang merupakan perusahaan penambangan data Inggris. Perusahaan tersebut bekerjasama dengan kampanye pemilihan presiden untuk calon Donald Trump.

Pengungkapan itu menyebabkan CEO Facebook Mark Zuckerberg memberi kesaksian di hadapan Kongres dan menerapkan tindakan privasi yang lebih ketat dan memperluas kontrol privasi pengguna.

Kemarin selama konferensi pengembang tahunannya, Facebook mengumumkan akan membiarkan pengguna memilih opsi keluar dari pelacakan riwayat peramban. Perusahaan jejaring sosial ini juga meluncurkan fitur kencan baru. (age/age)